Pesan 5…… Aduh ikut gembira. Biar nanti saya SMS. Tgl 6 saya di Graha Saba UGM…… ( Dari : Prie GS….5:38pm 3/6/08 ).
Hari itu saya menerima pesan dari mas Prie, pesan yang membuat saya kalang kabut luar biasa. Maklum, karena sudah lama saya tidak berjalan-jalan di dunia maya, jadi saya tidak sempat menengok jadwal tur mas Prie.
Kalang kabut karena tanggal enam berarti kurang tiga hari lagi setelah saya menerima pesan tersebut. Banyak hal harus saya persiapkan untuk datang ke acara tersebut. Maklumlah, saya ibu rumah tangga dengan satu anak lelaki ( yang susah sekali untuk diam ), jadi pekerjaan domestik yang tiada habisnya itu harus saya bereskan segera.
Yang pertama harus saya pikirkan adalah bagaimana mencapai tempat lokasi. Karena saya mengandalkan bus kota kemana-mana, jadi harus saya pikirkan baik-baik, jarak antara saya turun dari bis kota menuju lokasi. Apa harus naik becak atau bagaimana. Karena ada “ekor” yang selalu saya bawa kemanapun saya pergi. Anak lelaki kecil yang paling ganteng itulah ekor saya.
Dengan “ekor” tersebut, saya harus juga mempertimbangkan berapa jarak yang harus saya tempuh dengan jalan kaki, karena tidak ada bus kota yang melewati lokasi tersebut pada sore hari. Belum lagi angkutan apa yang akan saya pakai untuk pulang. Akhirnya saya kontak adik saya yang indekost di dekat lokasi untuk menumpang tidur di tempatnya barang semalam supaya kalau acara selesai sampai petang, saya tidak kebingungan untuk pulang, karena suami sedang ada pekerjaan di luar kota jadi tidak akan ada yang menjemput saya.
Sebelum saya berangkat, saya sudah mengajak tetangga saya untuk mengikuti acara tersebut. Tetangga saya sebenarnya mau datang, tetapi karena jam acara tersebut mundur, akhirnya tetangga saya membatalkan rencananya. Jadilah saya berangkat bersama anak lelaki saya.
Satu hari menjelang acara, saya nyaris putus asa, karena tidak ada dana menganggur untuk acara tersebut. Saya hanya mampu diam, tapi dalam diam saya memutar otak. Saya coba kontak salah satu teman untuk mencari pinjaman, tetapi saya harus kecewa karena teman saya tidak bisa memberi pinjaman. Sungguh, saya sudah putus asa, sampai saya lupa bahwa sehari menjelang hari H ada POSYANDU untuk anak saya. Untunglah, suara keras dari mikrofon kampung mengingatkan saya.
Sebelum berangkat POSYANDU, suami saya pulang dan mengatakan dengan pelan tapi terdengar jelas di telinga saya bahwa hari itu dia belum mendapat uang hasil kerjanya. Aduh…! Tentu saya bertambah panik. Mau saya omeli suami saya, tetapi melihat wajahnya yang kelelahan, sungguh saya tidak tega. Akhirnya saya putuskan untuk mengantar si kecil ke POSYANDU dulu sambil mencari udara segar.
Sepulang dari POSYANDU, pucuk dicinta ulam tiba, tiba-tiba suami saya memberikan uang dari hasil jerih-payahnya, suami saya bilang kalau baru saja ada orang datang mengantarkannya. Ah, ternyata Tuhan memang luar biasa! Doa dalam diampun tetap mampu didengarnya.
Akhirnya keesokan pagi saya berangkat. Setelah semua persiapan usai, tiba-tiba adik ipar saya menawarkan diri untuk memboncengkan saya. Kebetulan dia akan meluncur menuju ke arah yang sama. Lagi-lagi Tuhan menolong saya.
Sampailah saya dan anak saya ke lokasi acara tersebut. Banyak mata keheranan melihat kedatangan saya. Seorang perempuan dengan satu anak dan barang bawaan yang nggak ringkas sama sekali. Sayapun sebenarnya tak kalah kagetnya menghadapi situasi yang demikian tidak bersahabat. Tapi bukan saya namanya kalau tidak mampu mengatasi keadaan sepele seperti itu.
Setelah membayar uang masuk, saya duduk manis, mengikuti acara tersebut. Ternyata sesi mas Prie, masih cukup lama. Beberapa menit berlalu, kemudian datanglah mas Prie, idola saya tersebut. Dengan kepercayaan diri yang sempurna, mas Prie duduk di deretan terdepan.
Saya coba kirim pesan ke mas Prie, karena mas Prie berjanji pada saya akan memberikan sebuah buku untuk saya. Buku yang beliau tulis sendiri dan saat ini begitu laris di pasaran, novel berjudul IPUNG. Setelah ada laporan pengiriman pesan, saya lihat mas Prie mengedarkan pandangannya ke segenap ruangan. Mungkin mencari saya. Ternyata benar, mas Prie melambai ke arah saya dan meminta saya untuk duduk di sampingnya.
Sebenarnya saya agak sungkan, tapi setelah saya bernegosiasi dengan anak saya dan anak saya menyetujui, akhirnya kami putuskan untuk menghampiri mas Prie. Akhirnya saya duduk bersebelahan dengan mas Prie. Aduh… betapa groginya. Untunglah ruangan tersebut berpendingin udara jadi keringat saya tidak meleleh menganak sungai meski tidak beruntung untuk anak saya karena kemudian hidungnya pilek.
Giliran mas Prie berceramahpun tiba. Peserta yang mayoritas mahasiswa yang semula tegang tiba-tiba mencair ketika mas Prie yang berceramah. Bahkan tawapun bertebaran dimana-mana. Mas Prie memang luar biasa! Membuat suanana begitu hidup dan menggairahkan.
Akhinya setelah tanya jawab, acarapun usai. Setelah saya berbasa-basi sebentar dan meminta tanda tangan mas Prie, saya dan anak saya pulang. Keluar dari ruang pertemuan, saya melihat mas Prie dari kejauhan menuju mobilnya. Karena tidak ada angkutan umum yang melewati lokasi tersebut, saya pulang jalan kaki.
Tidak saya sangka, tiba-tiba mas Prie memanggil nama saya dan menawarkan tumpangan kepada saya dan anak saya. Sebenarnya saya mau menolak tawaran itu, tetapi dengan pertimbangan saya membawa anak saya dan bawaan saya cukup merepotkan, akhirnya saya menerima tawaran tersebut.
Sungguh! Saya grogi berat harus duduk bersebelahan lagi di dalam mobil. Lebih grogi lagi karena jalan untuk keluar dari lokasi ternyata ditutup semua dan saya tidak bisa menjadi pemandu yang baik… aduh…!!!!!
Akhirnya setelah berputar-putar dan bertanya, kami menemukan jalan keluar. Sebenarnya jarak antara gedung pertemuan dengan tempat kost adik saya tidak terlalu jauh, tetapi karena grogi, jarak tersebut terasa jauuuhhh… sekali.
Saya meminta untuk turun di pinggir jalan masuk gang. Sebenarnya mas Prie, menawarkan untuk mengantar sampai depan rumah kost, tapi saya sudah tidak sanggup menahan haru saya. Apalagi saya agak lupa dengan lokasi kost adik saya, jadi daripada nyasar bareng-bareng, lebih baik saya cari sendiri bersama anak saya.
Turun dari mobilpun mas Prie menyempatkan diri untuk turun dulu, membawakan tas saya dan menggandeng anak saya sambil menunggu saya turun dari mobil…. aduh, terpaksa saya mengaduh lagi karena terlalu terharu dengan sikap mas Prie yang luar biasa baiknya.
Setelah mobil dan staf mas Prie hilang dari pandangan, saya menyeberang. Sepanjang jalan menuju kost adik saya, rasanya saya masih tidak percaya dengan peristiwa yang baru saja saya alami.
Lima belas tahun bukan waktu yang sebentar untuk menunggu mimpi saya ini menjadi kenyataan. Dan ternyata setelah mimpi itu menjadi kenyataan, kenyataan itupun tetap membuat saya masih seperti bermimpi. Tak percaya!
Ah, mas Prie memang sosok yang luar biasa. Mampu memotivasi siapa saja. Yang meski sudah begitu terkenal dan berlimpah rejeki, tetap saja membumi dan sederhana.
Tidak sia-sia rasanya meneruskan kekaguman saya kepada mas Prie….
Yogyakarta, sambil menunggu anakku yang pulas dan menanti kedatangan suamiku tercinta.
Catatan : terimakasih untuk semua yang mendukungku sehingga mimpiku menjadi nyata : mas Ari ( bapaknya anakku ), Doni dan Chandra ( adik-adik iparku ), dik Desi ( adikku kandung ), Tossa ( saudara kami ).