akarangin

Berbagi rasa dengan kata-kata…

Pedoman Hidup Suku Indian 12 Agustus 2007

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — yuli @ 2:32 am

Bangun pagi bersama terbitnya mentari. Doa dalam hening. Doa sering-sering. Yang Maha Kuasa mendengarkan, jika kita bicara.

Sabar dan toleran terhadap orang-orang yang tersesat. Kebodohan, keangkuhan, kemarahan, kecemburuan, dan keserakahan berasal dari jiwa yang tersesat. Doakan agar mereka mendapat bimbingan.

Temukan jati diri dengan mencari sendiri. Jangan membiarkan orang lain yang mencarikan jalan untuk Anda. Jalan itu adalah jalan Anda sendiri. Orang lain mungkin bisa berjalan bersama Anda, tapi tak ada orang yang bisa menjalaninya untuk Anda.

Perlakukan tamu di rumah secara baik. Sajikan makanan terbaik, siapkan tempat tidur terbaik. Perlakukan mereka secara sopan dan hormat.

Hormati segala sesuatu yang ditempatkan di bumi ini, manusia ataupun tumbuhan.

Hargai pemikiran, harapan, dan kata-kata orang lain.

Jangan ambil sesuatu yang bukan milik Anda, apakah itu dari komunitas, dari alam atau dari budaya. Itu bukan hasil Anda dan tidak diberikan kepada Anda. Jadi itu bukan milik anda.

Jangan memotong, mengolok-olok, atau meniru secara kasar saat seseorang sedang bicara. Hargai hak setiap orang untuk menyatakan pendapat.

Jangan pernah mengatakan atau menceritakan keburukan atau kejelekan orang lain. Energi negatif yang Anda keluarkan ke alam semesta akan menggandakan diri ketika kembali kepada Anda.

Semua orang melakukan kesalahan dan semua kesalahan dapat dimaafkan.

Alam tidak diperuntukkan kepada kita, tapi bagian dari kita. Alam adalah bagian dari semua bangsa di dunia.

Jangan menyakiti hati orang lain. Racun dari rasa sakit yang Anda timbulkan akan kembali kepada Anda.

Jaga keseimbangan diri. Mental, spiritual, emosional, fisik, semuanya harus kuat, murni dan sehat. Olah tubuh untuk menguatkan pikiran. Tumbuh kaya dalam spiritual untuk menyembuhkan penyakit-penyakit emosional.

Hargai privasi dan ruang personal orang lain. Jangan menyentuh properti orang lain, terutama benda-benda keramat dan suci. Ini adalah larangan.

Pemikiran buruk menyebabkan penyakit mental, tubuh, dan roh. Coba latihan optimistik.

Anak-anak adalah benih dari masa depan. Tanamkan cinta di dalam hati mereka, sirami dengan kebijakan dan pelajaran kehidupan. Ketika mereka tumbuh, beri mereka ruang untuk berkembang.

Selalu jujur setiap saat. Kejujuran adalah tes dari itikad kita dalam hidup di dunia.

Buat keputusan-keputusan secara sadar dan tetapkan bagaimana Anda bereaksi. Bertanggungjawab atas tindakan dan perbuatan sendiri.

Rawat dan bantu diri sendiri dulu. Anda tak bisa merawat dan membantu orang lain jika Anda tidak terlebih dulu merawat dan membantu diri sendiri.

Hormati agama dan kepercayaan orang lain. Jangan memaksakan kepercayaan kepada siapapun.

Berbagi keuntungan. Ikut beramal.

Sumber : AURA Edisi 24 / XI / Minggu ke-4 / 27 Juni – 3 Juli 2007

 

Suatu sore di Gampingan 11 Agustus 2007

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — yuli @ 2:34 pm

Sore tadi saya diajak oleh sahabat saya berboncengan sepeda motor untuk menikmati suasana sore di Jogja. Kami berangkat bertiga. Saya, Gading anak saya dan sahabat saya.

Sebenarnya, kami ingin mengunjungi beberapa teman. Tapi karena kami tidak memberitahukan dulu tentang kedatangan kami, maka kami harus menelan kekecewaan kami, karena mereka tidak ada di rumah.

Untuk mengobati kekecewaan kami, akhirnya kami putuskan untuk sekedar minum teh di angkringan tugu. Tapi mengingat jarak yang jauh, karena rumah teman kami di daerah Nitiprayan, maka kami merubah rencana.

Kami berbelok ke kampus ISI lama di daerah Gampingan.

Ah… saya sempat terkejut melihat keadaan sekitar. Begitu bersih dan terawat. Tidak seperti lima tahun yang lalu ketika saya masih sering bermalam di sana bersama beberapa teman yang sedang merajut mimpi dan berproses.

Saya amati beberapa bangunan yang ada sambil bercerita kepada Gading bahwa ayah dan ibunya pernah mempunyai banyak kenangan yang sangat indah di kampus ini.

Setelah kami berputar sejenak, sahabat saya bertemu dengan beberapa temannya. Setelah ritual jabat tangan, kami diajak minum kopi oleh Pak Nico yang mengelola Museum Nasional tersebut. Dan di sana kami dikenalkan dengan seorang teman lagi.

Kami berdiskusi tentang banyak hal. Banyak sekali.

Setelah  senja menghilang dari cakrawala dan malam mulai turun, kami putuskan untuk mengakhiri diskusi kami. Karena anak saya sudah mulai rewel dan ingin segera pulang.

Sore yang indah dan sore yang memberi berkah karena saya mendapatkan satu teman diskusi lagi yang saya yakin akan menambah wawasan saya.

Terima kasih Paniyati manis untuk hang out yang mengesankan ini.