akarangin

Berbagi rasa dengan kata-kata…

Rejeki Daun Cincau 25 Januari 2008

Diarsipkan di bawah: cerita — yuli @ 6:26 pm

Ada daun cincau yang tumbuh dengan pesat di belakang dan depan rumah tempat saya tinggal . Lebat sekali. Ada beberapa daunnya yang mulai mengering. Maklum, rumah tempat saya tinggal berpenghuni orang muda yang selalu bergerak kian kemari, jadi untuk mengurus hal-hal kecil seperti daun cincau itu, belum terlalu banyak waktu untuk merapikannya.

Sebenarnya, setiap saya melihat lebatnya daun cincau tersebut, saya prihatin. Ingin saya merapikannya. Tetapi waktu saya selalu habis untuk mengurus si kecil dan tetek bengek pekerjaan domestik yang tidak ada habisnya.

Sampai suatu ketika, saya membeli gado-gado di tetangga saya. Kebetulan tetangga saya ini juga berjualan es campur, lotek dan aneka masakan matang siap santap.

Saya melirik es campur yang dijualnya. Ada warna merah untuk gulanya. Padahal anak saya menyukainya. Aduh… tapi kenapa harus merah? Saya tahu, itu bukan warna alami. Meski mungkin memang pewarna makanan yang diijinkan, tapi saya selalu khawatir dengan efek samping dari pewarna makanan tersebut. Terutama untuk anak saya. Terutama karena dia menyukai segala makanan yang berlabel es.

Secara spontan, saya menawarkan daun cincau kepada tetangga saya untuk bebas mengambilnya. Saya tahu daun cincau bisa dibuat semacam agar-agar. Dan biasanya gula campur untuk daun cincau itu adalah gula merah yang lebih sehat dari gula pasir yang diberi pewarna.

Dan ternyata keberuntungan memang ada dalam genggaman saya. Tetangga saya menyatakan setuju dengan penawaran saya.

Selang satu hari kemudian, tetangga saya itupun memetik daun cincau yang tumbuh di balakang rumah yang saya tinggali. Tetangga saya mengatakan bahwa dia akan membayar daun cincau itu setelah dia memetik beberpa kali. Jujur, saya terkejut dengan pernyataan itu. Karena dari awal niat saya tidak untuk menjual daun cincau itu. Saya hanya bermaksud memberikan secara cuma-cuma supaya daun cincau itu lebih berguna untuk orang lain. Dan karena niat awal saya memang demikian, maka saya dengan halus menolak penawaran dari tetangga saya.

Siang tadi, ketika saya benar-benar tidak punya uang sepeserpun (meski keadaan ini sering kami alami), tiba-tiba tetangga saya tadi datang menyerahkan sebungkus plastik. Saya tanya apa isinya, tetangga saya mengatakan, bahwa isi bungkusan tersebut adalah lotek lengkap dengan krupuk dan es cincau.

Saya terkejut dengan pemberian yang tiba-tiba itu. Tapi belum habis rasa terkejut saya, tetangga saya segera berlalu tanpa saya kuasa menolak pemberian yang sangat berharga itu. Memang jumlahnya tidak seberapa. Tapi suasana yang sangat mendukung ketika itu, dimana saya benar-benar tidak punya uang untuk menghadirkan makan siang di meja makan, kehadiran tetangga itu bagai kedatangan malaikat yang membawa mukjizat Tuhan yang mendengar teriakan saya meski saya hanya berteriak dalam diam.

Terima kasih Tuhan….

Engkau bisa hadir lewat daun cincau yang tidak sempat aku rapikan.

Terima kasih juga untuk budhe Bun, untuk lotek dan es cincaunya.

Yogyakarta, pagi hari yang tidak juga sepi.

 

Ada Cerita dalam Bus Kota… 23 Januari 2008

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — yuli @ 5:00 pm

Tiga hari yang lalu saya berkunjung ke rumah seorang kawan yang sering memberikan asupan gizi untuk otak saya (terima kasih mbak Fanny untuk kesempatan yang berharga itu). Saya naik bus kota. Maklumlah, saya tidak bisa mengendarai kendaraan jenis apapun… haha.

Karena cukup lama saya tidak naik bus kota, maka pada kesempatan kali ini saya nikmati saja perjalanan yang lumayan jauh.

Di sisi kanan depan saya duduk berdua lelaki dan perempuan. Yang laki-laki berwajah serius dengan kacamata bertengger di hidungnya. Wajahnya biasa (menurut saya), karena lelaki ini bukan kriteria saya dan berkulit coklat mendekati legam. Yang perempuan berwajah cantik meski tanpa polesan. Berkulit putih, berambut ikal sebahu dan bermata mempesona.

Dari cara mereka “berdiskusi”, saya tahu bahwa mereka tuna wicara. Tapi saya juga tidak mengingkari binar-binar yang berpendaran di sekitar mereka menandakan bahwa mereka adalah sepasang kekasih. Saya melihat begitu banyak cinta bertebaran diantara mereka.

Saya kagum dengan mereka. Sepanjang perjalanan saya amati mereka. Mereka sibuk sekali dengan percakapan mereka. Tapi mereka sama sekali tidak mengganggu kenikmatan saya mengamati mereka.

Benar-benar dunia milik mereka berdua…. aha.

Tadi , saya juga kembali ke rumah kawan saya tersebut. Agak pagi.

Agak lama saya menunggu bus kota. Ketika bus kota melintas, saya segera menghentikan laju bus itu, meski saya juga ngeri melihat bagaimana bus itu menyalip dua motor sekaligus hanya untuk mengangkut saya. 

Sekali lagi saya terpana. Ternyata kernetnya seorang perempuan!

Bukan perempuan dengan rambut pendek dan penampilan laki-laki, tapi perempuan mungil, berambut panjang yang dijalin. Berkulit sawo matang.

Jujur, sepanjang perjalanan itu saya benar-benar menikmati. Tidak ada kata-kata kasar yang berhamburan seperti yang biasanya saya dengar ketika kernetnya adalah laki-laki. Cara ibu itu mengembalikan uang kembalianpun begitu santun.

Ibu ini memang perkasa di balik tubuh mungilnya.

Ketika saya sampai tujuan dan kemudian turun, saya ucapkan terima kasih sambil saya lemparkan senyum terbaik yang saya miliki untuk beliau.

Ah, cerita yang indah untuk saya bagi.

Terima kasih mas dan mbak juga ibu kernet yang entah bernama siapa.

Untuk inspirasi juga semangat yang kalian berikan untuk saya.

#mama_akarangin#   dini hari, sambil menunggu suami menggambar animasi.

 

 

Mas PRIE.. 16 Januari 2008

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — yuli @ 3:21 pm

Akhirnya, malam ini saya punya kesempatan untuk berbagi cerita lagi di dunia maya lewat blog ini.

Saya ingin bercerita tentang seseorang yang mampu membuat saya jatuh cinta dengan dunia tulis-menulis. Kebetulan, beberapa hari yang lalu, saya bertemu lagi dengan tulisan beliau lewat bloggernya.

Ternyata tulisan beliau tidak banyak berubah. Tetap seperti dulu. Sederhana, mudah dicerna karena tidak banyak menggunakan kata-kata rumit tapi maknanya tetap dalam.

Namanya PRIE GS. Seorang penulis, wartawan dan kartunis. Yang berasal dari ibukota Jawa Tengah. Pertemuan saya berawal tahun 1995, ketika itu saya menemukan tulisan beliau di kolom serambi budaya di salah satu surat kabar harian terbitan Jawa Tengah yang kebetulan ayah saya berlangganan surat kabar tersebut.

Waktu itu setiap saya baca kolom tersebut, ada yang berbeda yang saya rasakan. Karena tidak tahan, akhirnya saya mengkliping tulisan-tulisan tersebut. Ada energi luar biasa yang saya rasakan setiap saya baca kembali tulisan-tulisan mas Prie.

Lewat tulisan saya ini, saya cuma ingin mengucapkan terima kasih untuk mas Prie, yang telah begitu berjasa menggugah semangat saya untuk jatuh cinta dalam dunia kepenulisan, meski saya sangat sadar bahwa tulisan saya masih sangat jauh dari sempurna.

Terima kasih sekali lagi untuk mas Prie. Dan bagi teman-teman yang ingin tahu seorang Prie GS lebih banyak, bisa membaca blog beliau di priegs.blogspot.com.