akarangin

Berbagi rasa dengan kata-kata…

Untuk Seorang Sahabat…. 3 Februari 2008

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — yuli @ 1:34 pm

(Untuk A yang jauh di seberang pulau…)

 

Selamat malam sahabat….

Malam ini hujan membasahi kotaku. Entahlah, apakah di kotamu juga turun hujan yang sama…. Malam ini, tiba-tiba aku ingat kamu. Semoga kamu baik-baik saja, meski aku tahu, kondisimu tidak seperti itu. Tapi sekedar berharap, aku pikir tidak ada salahnya…

Aku merindukanmu sahabat. Masih ingat tujuh tahun yang lalu ketika pertama kali kita bertemu di kota tua Jogjakarta? Di persekutuan doa kita bertemu.

Setelah aku memberikan kesaksian, kamu menghampiriku kemudian kamu ulurkan tanganmu. Kita berkenalan dan membuat janji untuk bertemu lagi di persekutuan doa itu. 

Setiap satu minggu sekali kita bertemu. Tidak banyak yang kita lakukan, kita hanya bertanya kabar, kemudian kamu aku tinggalkan karena aku sibuk menyambut teman-teman baru yang datang.

Di akhir acara, ketika kamu mau pulang, biasanya kamu menghampiriku lagi. Menjabat erat tanganku untuk kemudian kita larut dalam doa dimana kita saling mendoakan satu dengan yang lainnya.

Pertemuan kita yang paling rutin adalah ketika kamu terbaring sakit di rumah sakit Bethesda. Setiap pagi aku menjengukmu. Sekedar bertanya kabar untuk kemudian aku dukung kamu dalam doa supaya kamu segera pulih.

Sebenarnya saat itu mulai tumbuh perhatian yang lebih dalam kepadamu. Tapi aku tidak berani mengatakannya. Aku takut, akan terluka.

Terlalu banyak rintangan yang akan menghadangku jika aku nekat untuk mencintaimu. Keluarga besarku pasti tidak akan mendukungku. Bapakku tidak pernah merelakan anak perempuannya mendapatkan pasangan dari suku yang berbeda. Keluarga besarkupun berbeda keyakinan dengan keluarga besarmu.

Aku tahu, kamupun menyimpan perasaan yang sama. 

Tapi tidak pernah ada pernyataan darimu. Kamu menyayangiku, itu yang aku tahu. Kamu peduli padaku sepeduli aku padamu.

Hebat ya kita, bisa menyikapi perasaan kita dengan kedewasaan yang nyaris sempurna. Kita tahu, bahwa kita akan saling terluka seandainya tembok yang kokoh dan tinggi itu kita terjang. Kita tahu bahwa menikah tidak cukup hanya dengan cinta.

Dan kita sanggup melewati itu semua. Kamu memang bukan lelaki terhebat, tapi kamu lelaki terbaik yang aku punya setelah Bapakku dan anakku.

Kamu bisa menghormatiku. Tidak pernah sehelai rambutpun kamu sentuh aku dengan kekurangajaran khas laki-laki. 

Tapi sayang, aku tidak sanggup bertahan sendiri. Seperti kamu tetap sendiri sampai saat ini.

Ada luka yang terlihat jelas di matamu ketika aku memperkenalkan laki-laki yang sekarang menjadi suamiku kepadamu. Kamu cuma berkata : ” Yuli… hati-hati…..”

Seandainya aku masih diberi kesempatan untuk bertemu denganmu… ingin rasanya aku kembali membagi semua ceritaku kepadamu.

Setiap tahun bertambah aku selalu ketakutan menghitung sisa hidupmu. Maaf, tapi ini kenyataan yang selalu menghantuiku mengingat penyakitmu belum ada obatnya hingga saat ini.

Aku juga tidak bisa mendampingimu dan secerewet dulu lagi dalam mengingatkanmu untuk meminum obat.

Sahabat…. aku rindu kamu.

malam, ketika hujan membasahi kota Jogja…. 3 Februari 2008 

 

 

Oleh-oleh dari Bapak 1 Februari 2008

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — yuli @ 5:17 am

Bapak saya seorang pensiunan guru sekolah dasar. Sekolah terakhir tempat beliau mengajar berada di kompleks perumahan militer. Maklum, saya lahir dan dibesarkan di kota kecil di Jawa Tengah yang di sana terdapat beberapa sekolah militer.

Dulu, sewaktu saya kecil, saya sering protes terhadap Bapak saya. “Kenapa sih, Bapak nggak pernah bawa makanan kecil kalau pulang dari bepergian? Nggak seperti Ibu….”

Bapak cuma tersenyum dan berkata, “Bapak nggak bisa jajan dan nggak pernah mampir di warung…” Uh… sebel sekali mendengar jawaban seperti itu.

Tapi meski Bapak tidak pernah membawa makanan kecil sebagai oleh-oleh, Bapak selalu membawa bacaan. Entah buku cerita ataupun koran.

Saya masih ingat, bacaan-bacaan yang Bapak bawa, ada si Kuncung, Ceria dan Bobo. Bahkan untuk Bobo, Bapak pernah berlangganan cukup lama. Saya masih ingat, saya selalu berebut dengan adik dan kakak saya untuk menjadi pembaca pertama majalah tersebut kala loper majalah tersebut datang ke rumah kami.

Setelah kami semua lulus sekolah dasar, Bapak mengganti Bobo dengan surat kabar harian. Ada Suara Merdeka, Wawasan, Cempaka Minggu Ini, tabloid dari yang klenik sampai tabloid politik. Nyaris Bapak tidak pernah berhenti berlangganan surat kabar ataupun tabloid.

Sekarang ini, Bapak berlangganan majalah berbahasa Jawa. Mungkin ini ada hubungannya dengan adik bungsu saya yang pernah ambil jurusan mata kuliah Sastra Nusantara di kampus birunya Jogja.

Saya tidak pernah mengerti, mengapa Bapak selalu berlangganan majalah, tabloid dan surat kabar. Tapi ternyata efek samping dari kebiasaan Bapak tersebut luar biasa, saya dan dua saudara perempuan saya semua memakai kacamata minus karena terlalu sering membaca… haha.

Bapak tidak pernah menyesali ini karena ketiga putrinya tumbuh menjadi perempuan yang cerdas… ehm, dan punya keberanian untuk menentukan pilihan juga mandiri dan berani hidup prihatin.

Selain efek kacamata minus tadi, efek samping buat saya juga cukup mengejutkan, saya selalu melihat buku seperti camilan yang siap makan. Bahkan suami saya kadang cemburu melihat keasyikan saya membaca.

Wah… ternyata oleh-oleh dari Bapak saya sungguh banyak manfaatnya. Dan saya menyadarinya setelah saya berumur tiga puluh tahun… keterlaluan…!!!

untuk bapak Darsono tercinta, sampai kapanpun, aku akan selalu mencintaimu.

tak peduli ruang dan waktu akan memisahkan kita,

cintaku tetap utuh untukmu….

Jogja, Rabu 29 Januari 2008