akarangin

Berbagi rasa dengan kata-kata…

Oleh-oleh dari Bapak 1 Februari 2008

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — yuli @ 5:17 am

Bapak saya seorang pensiunan guru sekolah dasar. Sekolah terakhir tempat beliau mengajar berada di kompleks perumahan militer. Maklum, saya lahir dan dibesarkan di kota kecil di Jawa Tengah yang di sana terdapat beberapa sekolah militer.

Dulu, sewaktu saya kecil, saya sering protes terhadap Bapak saya. “Kenapa sih, Bapak nggak pernah bawa makanan kecil kalau pulang dari bepergian? Nggak seperti Ibu….”

Bapak cuma tersenyum dan berkata, “Bapak nggak bisa jajan dan nggak pernah mampir di warung…” Uh… sebel sekali mendengar jawaban seperti itu.

Tapi meski Bapak tidak pernah membawa makanan kecil sebagai oleh-oleh, Bapak selalu membawa bacaan. Entah buku cerita ataupun koran.

Saya masih ingat, bacaan-bacaan yang Bapak bawa, ada si Kuncung, Ceria dan Bobo. Bahkan untuk Bobo, Bapak pernah berlangganan cukup lama. Saya masih ingat, saya selalu berebut dengan adik dan kakak saya untuk menjadi pembaca pertama majalah tersebut kala loper majalah tersebut datang ke rumah kami.

Setelah kami semua lulus sekolah dasar, Bapak mengganti Bobo dengan surat kabar harian. Ada Suara Merdeka, Wawasan, Cempaka Minggu Ini, tabloid dari yang klenik sampai tabloid politik. Nyaris Bapak tidak pernah berhenti berlangganan surat kabar ataupun tabloid.

Sekarang ini, Bapak berlangganan majalah berbahasa Jawa. Mungkin ini ada hubungannya dengan adik bungsu saya yang pernah ambil jurusan mata kuliah Sastra Nusantara di kampus birunya Jogja.

Saya tidak pernah mengerti, mengapa Bapak selalu berlangganan majalah, tabloid dan surat kabar. Tapi ternyata efek samping dari kebiasaan Bapak tersebut luar biasa, saya dan dua saudara perempuan saya semua memakai kacamata minus karena terlalu sering membaca… haha.

Bapak tidak pernah menyesali ini karena ketiga putrinya tumbuh menjadi perempuan yang cerdas… ehm, dan punya keberanian untuk menentukan pilihan juga mandiri dan berani hidup prihatin.

Selain efek kacamata minus tadi, efek samping buat saya juga cukup mengejutkan, saya selalu melihat buku seperti camilan yang siap makan. Bahkan suami saya kadang cemburu melihat keasyikan saya membaca.

Wah… ternyata oleh-oleh dari Bapak saya sungguh banyak manfaatnya. Dan saya menyadarinya setelah saya berumur tiga puluh tahun… keterlaluan…!!!

untuk bapak Darsono tercinta, sampai kapanpun, aku akan selalu mencintaimu.

tak peduli ruang dan waktu akan memisahkan kita,

cintaku tetap utuh untukmu….

Jogja, Rabu 29 Januari 2008

 

2 Responses to “Oleh-oleh dari Bapak”

  1. vin Says:

    membaca memang menyenangkan. seringkali bahkan saya memanfaatkan kegemaran membaca untuk ‘lari’ dari hingar bingar hidup yang bikin lelah.
    :)

  2. aaeman Says:

    Suwer deh. klo abahnya semasa sekolah rakyat bacaane podo karo nduk, si kuncung. Setelah esema sukanya bobo sama gadis. Setelah dewasa sukanya femina. Tapi itu dulu semasa abah yang muda yang tercinta. Dah tuwe sekarang malahan suka gak bobo sama blog deh. Hehe jangan ketawa dong, orang abahnya dah make suwer ginih kok. Yo wis ben, salam kangen ae karo Galih Gading Akar Angin yo nduk.


Leave a Reply