(Untuk A yang jauh di seberang pulau…)
Selamat malam sahabat….
Malam ini hujan membasahi kotaku. Entahlah, apakah di kotamu juga turun hujan yang sama…. Malam ini, tiba-tiba aku ingat kamu. Semoga kamu baik-baik saja, meski aku tahu, kondisimu tidak seperti itu. Tapi sekedar berharap, aku pikir tidak ada salahnya…
Aku merindukanmu sahabat. Masih ingat tujuh tahun yang lalu ketika pertama kali kita bertemu di kota tua Jogjakarta? Di persekutuan doa kita bertemu.
Setelah aku memberikan kesaksian, kamu menghampiriku kemudian kamu ulurkan tanganmu. Kita berkenalan dan membuat janji untuk bertemu lagi di persekutuan doa itu.
Setiap satu minggu sekali kita bertemu. Tidak banyak yang kita lakukan, kita hanya bertanya kabar, kemudian kamu aku tinggalkan karena aku sibuk menyambut teman-teman baru yang datang.
Di akhir acara, ketika kamu mau pulang, biasanya kamu menghampiriku lagi. Menjabat erat tanganku untuk kemudian kita larut dalam doa dimana kita saling mendoakan satu dengan yang lainnya.
Pertemuan kita yang paling rutin adalah ketika kamu terbaring sakit di rumah sakit Bethesda. Setiap pagi aku menjengukmu. Sekedar bertanya kabar untuk kemudian aku dukung kamu dalam doa supaya kamu segera pulih.
Sebenarnya saat itu mulai tumbuh perhatian yang lebih dalam kepadamu. Tapi aku tidak berani mengatakannya. Aku takut, akan terluka.
Terlalu banyak rintangan yang akan menghadangku jika aku nekat untuk mencintaimu. Keluarga besarku pasti tidak akan mendukungku. Bapakku tidak pernah merelakan anak perempuannya mendapatkan pasangan dari suku yang berbeda. Keluarga besarkupun berbeda keyakinan dengan keluarga besarmu.
Aku tahu, kamupun menyimpan perasaan yang sama.
Tapi tidak pernah ada pernyataan darimu. Kamu menyayangiku, itu yang aku tahu. Kamu peduli padaku sepeduli aku padamu.
Hebat ya kita, bisa menyikapi perasaan kita dengan kedewasaan yang nyaris sempurna. Kita tahu, bahwa kita akan saling terluka seandainya tembok yang kokoh dan tinggi itu kita terjang. Kita tahu bahwa menikah tidak cukup hanya dengan cinta.
Dan kita sanggup melewati itu semua. Kamu memang bukan lelaki terhebat, tapi kamu lelaki terbaik yang aku punya setelah Bapakku dan anakku.
Kamu bisa menghormatiku. Tidak pernah sehelai rambutpun kamu sentuh aku dengan kekurangajaran khas laki-laki.
Tapi sayang, aku tidak sanggup bertahan sendiri. Seperti kamu tetap sendiri sampai saat ini.
Ada luka yang terlihat jelas di matamu ketika aku memperkenalkan laki-laki yang sekarang menjadi suamiku kepadamu. Kamu cuma berkata : ” Yuli… hati-hati…..”
Seandainya aku masih diberi kesempatan untuk bertemu denganmu… ingin rasanya aku kembali membagi semua ceritaku kepadamu.
Setiap tahun bertambah aku selalu ketakutan menghitung sisa hidupmu. Maaf, tapi ini kenyataan yang selalu menghantuiku mengingat penyakitmu belum ada obatnya hingga saat ini.
Aku juga tidak bisa mendampingimu dan secerewet dulu lagi dalam mengingatkanmu untuk meminum obat.
Sahabat…. aku rindu kamu.
malam, ketika hujan membasahi kota Jogja…. 3 Februari 2008
Tepat saat ini 5 Feb 2008 21.52 kotaku lagi diguyur hujan. Berbeda dengan kotamu yang hujannya jinak bersahabat itu, malahan sangat diharapkan karena membawa hikmah kebahagiaan bersama. Klo dikotaku hujannya keras ganas dan liar yang suka membawa petaka, rahayat pada kebajiran, jalanan pada macet dan rusak Tentunya kehidupan menjadi terganggu. Tiap tahun kotaku menanggung nilai milyaran yang musnah karena fenomena hujan. Berbahagialah engkau yang dikotamu. Meski aneh tapi nyata terbukti masih ada aja yang pada datang ke kotaku yang bejad ini. Apa karena cuma di kota ini aja yang ada abahnya ya?
Mbak Yuli, salam kenal.
Semoga sahabat Mbak Yuli menemukan jalan yang terbaik untuk kesembuhan dan selalu dengan ketegaran untuk menghadapi penyakitnya.