Akarangin namanya. Lengkapnya Galahgading Akar Angin yang tertulis di akta kelahirannya. Nama yang diberikan suamiku untuk anak lelaki kami. Nama yang diperoleh satu hari menjelang selapanan (upacara ucap syukur atas kelahiran seorang bayi). Suami saya memang agak kesulitan memberi nama untuk anak pertama kami. Maklum suami saya hanya mempersiapkan satu nama untuk seorang anak perempuan Embun Putih Seruni. Ternyata yang lahir adalah anak laki-laki.
Sekarang berumur tiga tahun lebih tujuh bulan. Anak lelaki yang menjadi semangat dalam kehidupan pernikahan kami.
Gading, kami biasa memnggilnya. Anak laki-laki yang lucu, yang selalu bertanya tentang apa saja. Anak lelaki yang terbiasa dengan pemandangan laki-laki bertatto, memakai anting dan berambut panjang.
Setiap pagi, tidak lupa dia mengucap salam untuk ibunya, “Selamat pagi Ibu cantik…”. Salam dari Gading itu yang menjadi semangat buat saya menjalani hari-hari yang kadang begitu membosankan.
Bukan hanya salam tetapi bila Gading membutuhkan sesuatu pasti memanggil saya dengan sebutan mesra… Ibu cantik… aha. Sampai adik ipar saya dan teman-teman suami yang mendengarnya tersenyum geli sekaligus dongkol… hahaha.
Kehadiran Gading membuat saya yakin bahwa saya memang perempuan seutuhnya, meski dulu sebelum menikah, tidak terbayang bahwa saya akan mempunyai anak kandung dalam kehidupan saya.
Kehadiran Gading juga membuat saya bahagia karena meskipun sebagai perempuan saya cukup “berantakan” tapi ternyata saya sanggup mengalahkan ego saya pribadi. Saya mau dan mampu mengandung, melahirkan dan merawatnya.
Meski Gading kadang sewot sama saya, karena dalam mendidik Gading, saya sering memposisikan dia sebagai teman. Kadang waktu saya sedih, dia saya ajak berbagi. Meski masukan dari Gading tidak nyambung sama sekali dengan masalah yang saya hadapi tetapi perhatian dia dalam mendengarkan saya sudah sangat mengurangi beban saya.
Kegemarannya menggambar dengan berbagai media mengalir dari kebiasaan bapaknya yang seorang pekerja seni dan menekuni dunia seni murni. Apapun bisa dia jadikan media kalau keinginannya menggambar sedang muncul. Bahkan kadang-kadang, kulit ibunyapun dia jadikan media. Ya itu tadi, karena terlalu sering dia melihat orang bertatto.
Begitulah Gading, malaikat kecil saya yang menyempurnakan hidup saya sebagai seorang perempuan.
Yogyakarta, rumah bambu 26 Maret 2008.
Ketika Gading sudah terlelap.
salam kenal mbak yulie…
ooo.. akarangin itu nama putranya ya mbak
unik, semoga putranya kelak memang seunik kehebatannya
hmm.. rumah bambu?? apa rumahnya mbak yulie dari bambu? saya tertarik material ini mulai dari filosofinya & kegunaannya, kalo ada waktu, tulislah soal rumah mbak yuli, kalo memang ‘rumah bambu’ itu rumahnya mbak
terharu….
nama putranya bagus mbak, nama putrinya juga bagus (meski masih pending, lum dipakai)