Beberapa hari yang lalu, suami saya ngomel-ngomel. Waktu itu kami sedang makan bersama.
Dia makan sambil ngomel nggak karuan. Tapi justru karena itu, makannya jadi banyak.. hahaha. Dia jengkel sekali ketika mendapat kerja borongan sebagai kuli entertainer sebuah acara hajatan salah satu stasiun televisi swasta dari ibukota.
Kesal dan jengkel bukan karena pekerjaan yang berat ataupun tentang uang bayaran yang diterima, tapi kesal karena dia harus bekerja-sama dengan orang “kota”. Mungkin suami saya yang terlalu sensitif sebagai orang “udik”.
Dia bercerita bahwa orang-orang “kota” itu gayanya sok-sokan. Sok pintar, sok ngatur, petentang-penteteng. Simak saja kutipan omelannya berikut ini: “Huh….!!!! Mentang-mentang orang metropolitan, kerja aja kacamata bertebaran di sekujur tubuh, belum handphone yang digantung sana-sini, pakai laptop aja praktis kok mesti pakai banyak telephone genggam…. Udah gitu gayanya ngatur-ngatur kaya kita nggak tahu aja kerja beginian. Padahal kualitas kerja mereka juga sama kaya kita…”
Hahaha… saya cuma berani terbahak dalam hati tapi di luar tentu saya memberinya senyum yang termanis untuk menyiram kemarahannya supaya mereda. Bukankah salah satu kewajiban istri adalah menjadi penyejuk bagi suami yang sedang menggelegak?
Tapi memang saya sendiri sering heran dan geli dengan kelakuan orang-orang dari pusat itu. Pernah saya dan Mbakyu saya yang tinggal di kota Magelang tersenyum simpul mendengar pernyataan Mbakyu ipar saya yang datang dari metropolitan yang seperti ini, “Oh, saya kira cuma di tempat tante M saja (yang kebetulan tinggal di Jakarta) yang perabotannya memakai listrik. Ternyata di sini juga pakai listrik semua.” Memang setelah harga minyak tanah yang melambung tinggi dan susah dicari, Mbakyu saya memutuskan untuk mengganti peralatan dapurnya dengan peralatan listrik.
Pernah juga seorang teman yang sebetulnya juga berasal dari udik tapi kemudian bekerja di Jakarta, terheran-heran dengan perangkat internet yang ada di runah yang kami tinggali. Dia tidak menyangka sama sekali, bahwa rumah yang sangat sederhana ini, ternyata dilengkapi dengan perangkat internet.
Bulik saya yang tinggal di bawah kaki merapi juga pernah menemukan perihal yang lucu tentang perilaku orang metropolitan tersebut. Suatu ketika datang sebuah keluarga yang menengok anaknya yang ber-kuliah kerja nyata di desa Bulik saya tersebut. Mobil yang mereka tumpangi, mereka penuhi dengan banyak jerigen yang berisi air, mereka pikir di daerah bulik saya tidak ada air bersih. Begitu sampai di desa Bulik saya, mereka kecele, ternyata air bersih begitu tumpah ruah mengaliri sawah yang subur menghijau. Dan sekali lagi, hahaha… untuk perilaku orang-orang “kota” yang lucu itu.
Begitulah sekelumit cerita lucu tentang perilaku orang-orang yang merasa begitu maju dan memandang daerah dengan sebelah mata.
Yogyakarta, 22 April 2008. Sore yang agak mendung sambil menunggu suamiku mereparasi lukisan.