akarangin

Berbagi rasa dengan kata-kata…

Sanggar Kreatif Anak Bukit Hijau 1 Mei 2008

Diarsipkan di bawah: cerita — yuli @ 4:11 pm

( Sebuah tulisan untuk seorang saudara pergaulan yang sedang “lelah” ).

Tadi siang saya berkunjung ke rumah seorang sahabat yang terletak di desa yang sangat jauh dari keramaian. Desa itu bernama desa Ngijo, Sitimulyo, Piyungan, Bantul. Rumah sahabat saya itu terletak di punggung bukit. Sempat gugup juga melihat jalannya yang naik tajam. Sementara anak saya malah berteriak-teriak kagum melihat pemandangan yang begitu indah di kanan-kiri jalan.

Tapi begitu sampai ke rumah sahabat kami, rasa ngeri itu hilang seketika. Bagaimana  tidak, pohon-pohon segar tersebar dimana-mana. Sementara desain ruang tamu yang terletak di luar rumah induk sungguh sangat nyaman.  Apalagi begitu melihat ke bawah, yang terhampar hanya hijau sawah yang terpetak-petak laksana permadani raksasa.

Setelah bertemu dengan sahabat kami, ada banyak cerita yang kami bagi. Salah satunya adalah tentang sanggar yang didirikan oleh sahabat kami itu. Saudara Giman.

Sanggar itu itu bernama Sanggar Kreatif Anak Bukit Hijau. Sanggar yang didirikan tahun 11 Oktober 2007 yang merupakan tempat anak-anak Sekolah Dasar berkumpul untuk berlatih kesenian yang lebih fokus ke bidang teater.

Sanggar yang sederhana, yang merupakan bentuk keprihatinan dari Ki Senthot ( nama beken Mas Giman di sana ), atas maraknya miras di kalangan anak muda dan juga pergaulan bebas dan efek negatif globalisasi lainnya yang tidak bisa dihindari karena pengaruh media.

Sanggar yang didirikan atas dana swadaya dan idealisme pemuda bernama Giman. Pemuda yang sederhana yang masih melanjutkan pendidikan di Fakultas Seni Murni Jurusan Seni Patung angkatan 2005.

Tapi dari kesederhanaan itu sudah banyak kegiatan-kegiatan positif yang sudah mereka persembahkan untuk masyarakat. Diantaranya adalah pentas teater anak dengan iringan kreasi musik kenthongan* di Desa Tutup Muntilan pada peringatan 1 Muharram 2007 kemarin.

Mereka berlatih seminggu dua kali dengan durasi pertemuan selama satu jam. Banyak yang diajarkan di sanggar tersebut, terutama tentang pengenalan budaya Jawa yang mulai memudar tergilas modernisasi. Ada pengenalan tentang huruf Jawa, tembang macapatan, pengenalan dolanan bocah dan tembang anak-anak Jawa.

Pernah juga mengadakan acara lintas budaya dengan warga negara asing yang berasal dari Eropa tetapi berdomisili di Singapura. Acaranya adalah acara ulang tahun yang dikemas dengan bagus sehingga tercipta perpaduan budaya antara budaya barat dan budaya timur.

Sungguh luar biasa semangat yang dimiliki sahabat saya tersebut. Tempat yang jauh dan terpencil tidak menyurutkan langkahnya untuk menyelamatkan tunas-tunas bangsa yang kelak akan mewarisi negeri kita yang indah ini.

Hari yang melelahkan tapi sangat menyenangkan, karena kami bertemu dengan pemuda yang masih mempunyai idealisme selayaknya pejuang tahun empat puluh lima.

Ayo maju terus mas Giman!! Biarkan orang-orang yang tidak mampu melihat dengan hati nurani itu berkata semau mereka. Selama kita tidak merugikan orang lain, tampil beda itu sah-sah saja.

*kenthongan adalah alat musik  pukul yang terbuat dari bambu yang dilubangi tengahnya dan pada jaman dulu biasa digunakan untuk memberi-tahu warga apabila terjadi bencana.

Yogyakarta, 1 mei 2008.   Bau harum tanah basah.