akarangin

Berbagi rasa dengan kata-kata…

Soto Kesehatan 13 Agustus 2008

Diarsipkan di bawah: cerita — yuli @ 5:34 pm

Gerobak soto itu terletak di perempatan gang kampung. Ada ember berisi air yang diletakkan di sebelah timur perempatan itu. Untuk memberi tanda, agar ember itu terlihat dari arah utara yang menandakan bahwa gerobak soto itu ada dan siap melayani pembeli.

Soto itu kuberi nama soto kesehatan bukan dilihat dari komposisi campuran antara kuah dan taoge plus bakmi putih juga suwiran daging ayamnya, tapi karena gerobak soto itu terletak di depan PUSKESMAS. Karena terlalu sering aku membeli soto di situ, seorang tetanggaku pernah nyeletuk, “Wah, beli soto kesehatan ya….”.  Jadilah mulai saat itu, aku memberi julukan soto kesehatan.

Pedagangnya seorang ibu yang berperawakan gemuk dan berambut keriting yang berumur setengah baya. Aku selalu kagum dengan caranya melayani pembeli. Bukan dari gayanya mencampur adonan soto itu ataupun dari keramahannya, tapi dari cara dia melayani berapapun uang yang diberikan.

Di saat harga minyak yang melambung tinggi dan tentu saja menaikkan semua harga kebutuhan pokok, ibu penjual soto itu tetap mampu melayani uang limaratus yang diberikan padanya. Pembelian dengan uang duaribu rupiah adalah rekor harga yang tinggi.

Kadang, sehabis menyatap soto itu, aku sering berpikir tentang keuntungan yang ibu penjual soto itu dapatkan. Bagaimana cara dia memutar kembali uang yang dia peroleh untuk mengembalikan modal. Jujur, sampai detik ini aku masih bingung  dan kagum dibuatnya.

Ibu penjual soto itu mampu berjualan sekaligus berderma. Baginya mungkin berjualan hanya sekedar untuk membantu orang-orang yang membutuhkan sarapan dan perkara keuntungan adalah nomor sekian. Mungkin relasi dengan banyak orang, mampu membuat perut banyak orang menjadi kenyang adalah keuntungan yang berharga baginya.

Dan memang soto itu tidak pernah tersisa. Mulai berjualan pukul setengah delapan, biasanya pukul sebelas siang sudah mendorong gerobaknya untuk pulang. Tanpa obral janji dan iklan di televisi, soto itu sudah laris manis. Iklannya hanya melalui mulut ke mulut.

Aku hanya berpikir, seandainya para calon pemimpin negeri ini yang sedang sibuk mengobral janji lewat televisi itu mempunyai mental berderma dan mengutamakan kepentingan orang banyak seperti ibu penjual soto itu, pasti rakyat akan berbondong-bondong memilih mereka, tanpa harus susah payah mengeluarkan dana milyaran untuk beriklan.

Karena rakyat kecil seperti kami tidak butuh janji. Kami butuh bukti nyata. Kami butuh pemimpin yang mampu memanusiakan dan menyejahterakan rakyat kecil. Seperti ibu penjual soto itu, yang mampu menolong orang dan memanusiakan sesamanya.

Jogja, menjelang dini hari setelah ngobrol dengan mbak Ana dan jeng Retno.

 

Sanggar Kreatif Anak Bukit Hijau 1 Mei 2008

Diarsipkan di bawah: cerita — yuli @ 4:11 pm

( Sebuah tulisan untuk seorang saudara pergaulan yang sedang “lelah” ).

Tadi siang saya berkunjung ke rumah seorang sahabat yang terletak di desa yang sangat jauh dari keramaian. Desa itu bernama desa Ngijo, Sitimulyo, Piyungan, Bantul. Rumah sahabat saya itu terletak di punggung bukit. Sempat gugup juga melihat jalannya yang naik tajam. Sementara anak saya malah berteriak-teriak kagum melihat pemandangan yang begitu indah di kanan-kiri jalan.

Tapi begitu sampai ke rumah sahabat kami, rasa ngeri itu hilang seketika. Bagaimana  tidak, pohon-pohon segar tersebar dimana-mana. Sementara desain ruang tamu yang terletak di luar rumah induk sungguh sangat nyaman.  Apalagi begitu melihat ke bawah, yang terhampar hanya hijau sawah yang terpetak-petak laksana permadani raksasa.

Setelah bertemu dengan sahabat kami, ada banyak cerita yang kami bagi. Salah satunya adalah tentang sanggar yang didirikan oleh sahabat kami itu. Saudara Giman.

Sanggar itu itu bernama Sanggar Kreatif Anak Bukit Hijau. Sanggar yang didirikan tahun 11 Oktober 2007 yang merupakan tempat anak-anak Sekolah Dasar berkumpul untuk berlatih kesenian yang lebih fokus ke bidang teater.

Sanggar yang sederhana, yang merupakan bentuk keprihatinan dari Ki Senthot ( nama beken Mas Giman di sana ), atas maraknya miras di kalangan anak muda dan juga pergaulan bebas dan efek negatif globalisasi lainnya yang tidak bisa dihindari karena pengaruh media.

Sanggar yang didirikan atas dana swadaya dan idealisme pemuda bernama Giman. Pemuda yang sederhana yang masih melanjutkan pendidikan di Fakultas Seni Murni Jurusan Seni Patung angkatan 2005.

Tapi dari kesederhanaan itu sudah banyak kegiatan-kegiatan positif yang sudah mereka persembahkan untuk masyarakat. Diantaranya adalah pentas teater anak dengan iringan kreasi musik kenthongan* di Desa Tutup Muntilan pada peringatan 1 Muharram 2007 kemarin.

Mereka berlatih seminggu dua kali dengan durasi pertemuan selama satu jam. Banyak yang diajarkan di sanggar tersebut, terutama tentang pengenalan budaya Jawa yang mulai memudar tergilas modernisasi. Ada pengenalan tentang huruf Jawa, tembang macapatan, pengenalan dolanan bocah dan tembang anak-anak Jawa.

Pernah juga mengadakan acara lintas budaya dengan warga negara asing yang berasal dari Eropa tetapi berdomisili di Singapura. Acaranya adalah acara ulang tahun yang dikemas dengan bagus sehingga tercipta perpaduan budaya antara budaya barat dan budaya timur.

Sungguh luar biasa semangat yang dimiliki sahabat saya tersebut. Tempat yang jauh dan terpencil tidak menyurutkan langkahnya untuk menyelamatkan tunas-tunas bangsa yang kelak akan mewarisi negeri kita yang indah ini.

Hari yang melelahkan tapi sangat menyenangkan, karena kami bertemu dengan pemuda yang masih mempunyai idealisme selayaknya pejuang tahun empat puluh lima.

Ayo maju terus mas Giman!! Biarkan orang-orang yang tidak mampu melihat dengan hati nurani itu berkata semau mereka. Selama kita tidak merugikan orang lain, tampil beda itu sah-sah saja.

*kenthongan adalah alat musik  pukul yang terbuat dari bambu yang dilubangi tengahnya dan pada jaman dulu biasa digunakan untuk memberi-tahu warga apabila terjadi bencana.

Yogyakarta, 1 mei 2008.   Bau harum tanah basah.


 

Antara yang Pusat dan yang Daerah 22 April 2008

Diarsipkan di bawah: cerita — yuli @ 7:44 am

Beberapa hari yang lalu, suami saya ngomel-ngomel. Waktu itu kami sedang makan bersama.

Dia makan sambil ngomel nggak karuan. Tapi justru karena itu, makannya jadi banyak.. hahaha. Dia jengkel sekali ketika mendapat kerja borongan sebagai kuli entertainer sebuah acara hajatan salah satu stasiun televisi swasta dari ibukota.

Kesal dan jengkel bukan karena pekerjaan yang berat ataupun tentang uang bayaran yang diterima, tapi kesal karena dia harus bekerja-sama dengan orang “kota”. Mungkin suami saya yang terlalu sensitif sebagai orang “udik”.

Dia bercerita bahwa orang-orang “kota” itu gayanya sok-sokan. Sok pintar, sok ngatur, petentang-penteteng. Simak saja kutipan omelannya berikut ini: “Huh….!!!! Mentang-mentang orang metropolitan, kerja aja kacamata bertebaran di sekujur tubuh, belum handphone yang digantung sana-sini, pakai laptop aja praktis kok mesti pakai banyak telephone genggam…. Udah gitu gayanya ngatur-ngatur kaya kita nggak tahu aja kerja beginian. Padahal kualitas kerja mereka juga sama kaya kita…”

Hahaha… saya cuma berani terbahak dalam hati tapi di luar tentu saya memberinya senyum yang termanis untuk menyiram kemarahannya supaya mereda. Bukankah salah satu kewajiban istri adalah menjadi penyejuk bagi suami yang sedang menggelegak?

Tapi memang saya sendiri sering heran dan geli dengan kelakuan orang-orang dari pusat itu. Pernah saya dan Mbakyu saya yang tinggal di kota Magelang tersenyum simpul mendengar pernyataan Mbakyu ipar saya yang datang dari metropolitan yang seperti ini, “Oh, saya kira cuma di tempat tante M saja (yang kebetulan tinggal di Jakarta) yang perabotannya memakai listrik. Ternyata di sini juga pakai listrik semua.” Memang setelah harga minyak tanah yang melambung tinggi dan susah dicari, Mbakyu saya memutuskan untuk mengganti peralatan dapurnya dengan peralatan listrik.

Pernah juga seorang teman yang sebetulnya juga berasal dari udik tapi kemudian bekerja di Jakarta, terheran-heran dengan perangkat internet yang ada di runah yang kami tinggali. Dia tidak menyangka sama sekali, bahwa rumah yang sangat sederhana ini, ternyata dilengkapi dengan perangkat internet.

Bulik saya yang tinggal di bawah kaki merapi juga pernah menemukan perihal yang lucu tentang perilaku orang metropolitan tersebut. Suatu ketika datang sebuah keluarga yang menengok anaknya yang ber-kuliah kerja nyata di desa Bulik saya tersebut. Mobil yang mereka tumpangi, mereka penuhi dengan banyak jerigen yang berisi air, mereka pikir di daerah bulik saya tidak ada air bersih. Begitu sampai di desa Bulik saya, mereka kecele, ternyata air bersih begitu tumpah ruah mengaliri sawah yang subur menghijau. Dan sekali lagi, hahaha… untuk perilaku orang-orang “kota” yang lucu itu.

Begitulah sekelumit cerita lucu tentang perilaku orang-orang yang merasa begitu maju dan memandang daerah dengan sebelah mata.

Yogyakarta, 22 April 2008. Sore yang agak mendung sambil menunggu suamiku mereparasi lukisan.

 

AKARANGIN Malaikat Kecilku 26 Maret 2008

Diarsipkan di bawah: cerita — yuli @ 2:30 pm

Akarangin namanya. Lengkapnya Galahgading Akar Angin yang tertulis di akta kelahirannya. Nama yang diberikan suamiku untuk anak lelaki kami. Nama yang diperoleh satu hari menjelang selapanan (upacara ucap syukur atas kelahiran seorang bayi). Suami saya memang agak kesulitan memberi nama untuk anak pertama kami.  Maklum suami saya hanya mempersiapkan satu nama untuk seorang anak perempuan Embun Putih Seruni. Ternyata yang lahir adalah anak laki-laki.

Sekarang berumur tiga tahun lebih tujuh bulan. Anak lelaki yang menjadi semangat dalam kehidupan pernikahan kami.

Gading, kami biasa memnggilnya. Anak laki-laki yang lucu, yang selalu bertanya tentang apa saja. Anak lelaki yang terbiasa dengan pemandangan laki-laki bertatto, memakai anting dan berambut panjang. 

Setiap pagi, tidak lupa dia mengucap salam untuk ibunya, “Selamat pagi Ibu cantik…”. Salam dari Gading itu yang menjadi semangat buat saya menjalani hari-hari yang kadang begitu membosankan.

Bukan hanya salam tetapi bila Gading membutuhkan sesuatu pasti memanggil saya dengan sebutan mesra… Ibu cantik… aha. Sampai adik ipar saya dan teman-teman suami yang mendengarnya tersenyum geli sekaligus dongkol… hahaha.

Kehadiran Gading membuat saya yakin bahwa saya memang perempuan seutuhnya, meski dulu sebelum menikah, tidak terbayang bahwa saya akan mempunyai anak kandung dalam kehidupan saya.

Kehadiran Gading juga membuat saya bahagia karena meskipun sebagai perempuan saya cukup “berantakan” tapi ternyata saya sanggup mengalahkan ego saya pribadi. Saya mau dan mampu mengandung, melahirkan dan merawatnya.

Meski Gading kadang sewot sama saya, karena dalam mendidik Gading, saya sering memposisikan dia sebagai teman. Kadang waktu saya sedih, dia saya ajak berbagi. Meski masukan dari Gading tidak nyambung sama sekali dengan masalah yang saya hadapi tetapi perhatian dia dalam mendengarkan saya sudah sangat mengurangi beban saya.

Kegemarannya menggambar dengan berbagai media mengalir dari kebiasaan bapaknya yang seorang pekerja seni dan menekuni dunia seni murni. Apapun bisa dia jadikan media kalau keinginannya menggambar sedang muncul. Bahkan kadang-kadang, kulit ibunyapun dia jadikan media. Ya itu tadi, karena terlalu sering dia melihat orang bertatto.

Begitulah Gading, malaikat kecil saya yang menyempurnakan hidup saya sebagai seorang perempuan.

Yogyakarta, rumah bambu 26 Maret 2008.

Ketika Gading sudah terlelap. 

 

 

Rejeki Daun Cincau 25 Januari 2008

Diarsipkan di bawah: cerita — yuli @ 6:26 pm

Ada daun cincau yang tumbuh dengan pesat di belakang dan depan rumah tempat saya tinggal . Lebat sekali. Ada beberapa daunnya yang mulai mengering. Maklum, rumah tempat saya tinggal berpenghuni orang muda yang selalu bergerak kian kemari, jadi untuk mengurus hal-hal kecil seperti daun cincau itu, belum terlalu banyak waktu untuk merapikannya.

Sebenarnya, setiap saya melihat lebatnya daun cincau tersebut, saya prihatin. Ingin saya merapikannya. Tetapi waktu saya selalu habis untuk mengurus si kecil dan tetek bengek pekerjaan domestik yang tidak ada habisnya.

Sampai suatu ketika, saya membeli gado-gado di tetangga saya. Kebetulan tetangga saya ini juga berjualan es campur, lotek dan aneka masakan matang siap santap.

Saya melirik es campur yang dijualnya. Ada warna merah untuk gulanya. Padahal anak saya menyukainya. Aduh… tapi kenapa harus merah? Saya tahu, itu bukan warna alami. Meski mungkin memang pewarna makanan yang diijinkan, tapi saya selalu khawatir dengan efek samping dari pewarna makanan tersebut. Terutama untuk anak saya. Terutama karena dia menyukai segala makanan yang berlabel es.

Secara spontan, saya menawarkan daun cincau kepada tetangga saya untuk bebas mengambilnya. Saya tahu daun cincau bisa dibuat semacam agar-agar. Dan biasanya gula campur untuk daun cincau itu adalah gula merah yang lebih sehat dari gula pasir yang diberi pewarna.

Dan ternyata keberuntungan memang ada dalam genggaman saya. Tetangga saya menyatakan setuju dengan penawaran saya.

Selang satu hari kemudian, tetangga saya itupun memetik daun cincau yang tumbuh di balakang rumah yang saya tinggali. Tetangga saya mengatakan bahwa dia akan membayar daun cincau itu setelah dia memetik beberpa kali. Jujur, saya terkejut dengan pernyataan itu. Karena dari awal niat saya tidak untuk menjual daun cincau itu. Saya hanya bermaksud memberikan secara cuma-cuma supaya daun cincau itu lebih berguna untuk orang lain. Dan karena niat awal saya memang demikian, maka saya dengan halus menolak penawaran dari tetangga saya.

Siang tadi, ketika saya benar-benar tidak punya uang sepeserpun (meski keadaan ini sering kami alami), tiba-tiba tetangga saya tadi datang menyerahkan sebungkus plastik. Saya tanya apa isinya, tetangga saya mengatakan, bahwa isi bungkusan tersebut adalah lotek lengkap dengan krupuk dan es cincau.

Saya terkejut dengan pemberian yang tiba-tiba itu. Tapi belum habis rasa terkejut saya, tetangga saya segera berlalu tanpa saya kuasa menolak pemberian yang sangat berharga itu. Memang jumlahnya tidak seberapa. Tapi suasana yang sangat mendukung ketika itu, dimana saya benar-benar tidak punya uang untuk menghadirkan makan siang di meja makan, kehadiran tetangga itu bagai kedatangan malaikat yang membawa mukjizat Tuhan yang mendengar teriakan saya meski saya hanya berteriak dalam diam.

Terima kasih Tuhan….

Engkau bisa hadir lewat daun cincau yang tidak sempat aku rapikan.

Terima kasih juga untuk budhe Bun, untuk lotek dan es cincaunya.

Yogyakarta, pagi hari yang tidak juga sepi.