akarangin

Berbagi rasa dengan kata-kata…

Mimpi Itu Menjadi Nyata 10 Juni 2008

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — yuli @ 4:30 pm

Pesan 5…… Aduh ikut gembira. Biar nanti saya SMS. Tgl 6 saya di Graha Saba UGM…… ( Dari : Prie GS….5:38pm  3/6/08 ).

Hari itu saya menerima pesan dari mas Prie, pesan yang membuat saya kalang kabut luar biasa. Maklum, karena sudah lama saya tidak berjalan-jalan di dunia maya, jadi saya tidak sempat menengok jadwal tur mas Prie.

Kalang kabut karena tanggal enam berarti kurang tiga hari lagi setelah saya menerima pesan tersebut. Banyak hal harus saya persiapkan untuk datang ke acara tersebut. Maklumlah, saya ibu rumah tangga dengan satu anak lelaki ( yang susah sekali untuk diam ), jadi pekerjaan domestik yang tiada habisnya itu harus saya bereskan segera.

Yang pertama harus saya pikirkan adalah bagaimana mencapai tempat lokasi. Karena saya mengandalkan bus kota kemana-mana, jadi harus saya pikirkan baik-baik, jarak antara saya turun dari bis kota menuju lokasi. Apa harus naik becak atau bagaimana. Karena ada “ekor” yang selalu saya bawa kemanapun saya pergi. Anak lelaki kecil yang paling ganteng itulah ekor saya.

Dengan “ekor” tersebut, saya harus juga mempertimbangkan berapa jarak yang harus saya tempuh dengan jalan kaki, karena tidak ada bus kota yang melewati lokasi tersebut pada sore hari. Belum lagi angkutan apa yang akan saya pakai untuk pulang. Akhirnya saya kontak adik saya yang indekost di dekat lokasi untuk menumpang tidur di tempatnya barang semalam supaya kalau acara selesai sampai petang, saya  tidak kebingungan untuk pulang, karena  suami sedang ada pekerjaan di luar kota jadi tidak akan ada yang menjemput saya.

Sebelum saya berangkat, saya sudah mengajak tetangga saya untuk mengikuti acara tersebut. Tetangga saya sebenarnya mau datang, tetapi karena jam acara tersebut mundur, akhirnya tetangga saya membatalkan rencananya. Jadilah saya berangkat bersama anak lelaki saya.

Satu hari menjelang acara, saya nyaris putus asa, karena tidak ada dana menganggur untuk acara tersebut. Saya hanya mampu diam, tapi dalam diam saya memutar otak. Saya coba kontak salah satu teman untuk mencari pinjaman, tetapi saya harus kecewa karena teman saya tidak bisa memberi pinjaman. Sungguh, saya sudah putus asa, sampai saya lupa bahwa sehari menjelang hari H ada POSYANDU untuk anak saya. Untunglah, suara keras dari mikrofon kampung mengingatkan saya.

Sebelum berangkat POSYANDU, suami saya pulang dan mengatakan dengan pelan tapi terdengar jelas di telinga saya bahwa hari itu dia belum mendapat uang hasil kerjanya. Aduh…! Tentu saya bertambah panik. Mau saya omeli suami saya, tetapi melihat wajahnya yang kelelahan, sungguh saya tidak tega. Akhirnya saya putuskan untuk mengantar si kecil ke POSYANDU dulu sambil mencari udara segar.

Sepulang dari POSYANDU, pucuk dicinta ulam tiba, tiba-tiba suami saya memberikan uang dari hasil jerih-payahnya, suami saya bilang kalau baru saja ada orang datang mengantarkannya. Ah, ternyata Tuhan memang luar biasa! Doa dalam diampun tetap mampu didengarnya.

Akhirnya keesokan pagi saya berangkat. Setelah semua persiapan usai, tiba-tiba adik ipar saya menawarkan diri untuk memboncengkan saya. Kebetulan dia akan meluncur menuju ke arah yang sama. Lagi-lagi Tuhan menolong saya.

Sampailah saya dan anak saya ke lokasi acara tersebut. Banyak mata keheranan melihat kedatangan saya. Seorang perempuan dengan satu anak dan barang bawaan yang nggak ringkas sama sekali.  Sayapun sebenarnya tak kalah kagetnya menghadapi situasi yang demikian tidak bersahabat. Tapi bukan saya namanya kalau tidak mampu mengatasi keadaan sepele seperti itu.

Setelah membayar uang masuk, saya duduk manis, mengikuti acara tersebut. Ternyata sesi mas Prie, masih cukup lama. Beberapa menit berlalu, kemudian datanglah mas Prie, idola saya tersebut. Dengan kepercayaan diri yang sempurna, mas Prie duduk di deretan terdepan.

Saya coba kirim pesan ke mas Prie, karena mas Prie berjanji pada saya akan memberikan sebuah buku untuk saya. Buku yang beliau tulis sendiri dan saat ini begitu laris di pasaran, novel berjudul IPUNG. Setelah ada laporan pengiriman pesan, saya lihat mas Prie mengedarkan pandangannya ke segenap ruangan. Mungkin mencari saya. Ternyata benar, mas Prie melambai ke arah saya dan meminta saya untuk duduk di sampingnya.

Sebenarnya saya agak sungkan, tapi setelah saya bernegosiasi dengan anak saya dan anak saya menyetujui, akhirnya kami putuskan untuk menghampiri mas Prie. Akhirnya saya duduk bersebelahan dengan mas Prie. Aduh… betapa groginya. Untunglah ruangan tersebut berpendingin udara jadi keringat saya tidak meleleh menganak sungai meski tidak beruntung untuk anak saya karena kemudian hidungnya pilek.

Giliran mas Prie berceramahpun tiba. Peserta yang mayoritas mahasiswa  yang semula  tegang tiba-tiba mencair ketika  mas Prie yang berceramah. Bahkan  tawapun bertebaran dimana-mana. Mas Prie memang luar biasa!  Membuat suanana begitu hidup dan menggairahkan.

Akhinya setelah tanya jawab, acarapun usai. Setelah saya berbasa-basi sebentar dan meminta tanda tangan mas Prie, saya dan anak saya pulang. Keluar dari ruang pertemuan, saya melihat mas Prie dari kejauhan menuju mobilnya. Karena tidak ada angkutan umum yang melewati lokasi tersebut, saya pulang jalan kaki.

Tidak saya sangka, tiba-tiba mas Prie memanggil nama saya dan menawarkan tumpangan kepada saya dan anak saya. Sebenarnya saya mau menolak tawaran itu, tetapi dengan pertimbangan saya membawa anak saya dan bawaan saya cukup merepotkan, akhirnya saya menerima tawaran tersebut.

Sungguh! Saya grogi berat harus duduk bersebelahan lagi di dalam mobil. Lebih grogi lagi karena jalan untuk keluar dari lokasi ternyata ditutup semua dan saya tidak bisa menjadi pemandu yang baik… aduh…!!!!!

Akhirnya setelah berputar-putar dan bertanya, kami menemukan jalan keluar. Sebenarnya jarak antara gedung pertemuan dengan tempat kost adik saya tidak terlalu jauh, tetapi karena grogi, jarak tersebut terasa jauuuhhh… sekali.

Saya meminta untuk turun di pinggir jalan masuk gang. Sebenarnya mas Prie, menawarkan untuk mengantar sampai depan rumah kost, tapi saya sudah tidak sanggup menahan haru saya. Apalagi saya agak lupa dengan lokasi kost adik saya, jadi daripada nyasar bareng-bareng, lebih baik saya cari sendiri bersama anak saya.

Turun dari mobilpun mas Prie menyempatkan diri untuk turun dulu, membawakan tas saya dan menggandeng anak saya sambil menunggu saya turun dari mobil…. aduh, terpaksa saya mengaduh lagi karena terlalu  terharu dengan sikap mas Prie yang luar biasa baiknya.

Setelah mobil dan staf mas Prie hilang dari pandangan, saya menyeberang. Sepanjang jalan menuju kost adik saya, rasanya saya masih tidak percaya dengan peristiwa yang baru saja saya alami.

Lima belas tahun bukan waktu yang sebentar untuk menunggu mimpi saya ini menjadi kenyataan. Dan ternyata setelah mimpi itu menjadi kenyataan, kenyataan itupun tetap membuat saya masih seperti bermimpi. Tak percaya!

Ah, mas Prie memang sosok yang luar biasa. Mampu memotivasi siapa saja. Yang meski sudah begitu terkenal dan berlimpah rejeki, tetap saja membumi dan sederhana.

Tidak sia-sia rasanya meneruskan kekaguman saya kepada mas Prie….


Yogyakarta, sambil menunggu anakku yang pulas dan menanti kedatangan suamiku tercinta.

Catatan : terimakasih untuk semua yang mendukungku sehingga mimpiku menjadi nyata : mas Ari ( bapaknya anakku ), Doni dan Chandra ( adik-adik iparku ), dik Desi ( adikku kandung ), Tossa ( saudara kami ).

 

Untuk Seorang Sahabat…. 3 Februari 2008

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — yuli @ 1:34 pm

(Untuk A yang jauh di seberang pulau…)

 

Selamat malam sahabat….

Malam ini hujan membasahi kotaku. Entahlah, apakah di kotamu juga turun hujan yang sama…. Malam ini, tiba-tiba aku ingat kamu. Semoga kamu baik-baik saja, meski aku tahu, kondisimu tidak seperti itu. Tapi sekedar berharap, aku pikir tidak ada salahnya…

Aku merindukanmu sahabat. Masih ingat tujuh tahun yang lalu ketika pertama kali kita bertemu di kota tua Jogjakarta? Di persekutuan doa kita bertemu.

Setelah aku memberikan kesaksian, kamu menghampiriku kemudian kamu ulurkan tanganmu. Kita berkenalan dan membuat janji untuk bertemu lagi di persekutuan doa itu. 

Setiap satu minggu sekali kita bertemu. Tidak banyak yang kita lakukan, kita hanya bertanya kabar, kemudian kamu aku tinggalkan karena aku sibuk menyambut teman-teman baru yang datang.

Di akhir acara, ketika kamu mau pulang, biasanya kamu menghampiriku lagi. Menjabat erat tanganku untuk kemudian kita larut dalam doa dimana kita saling mendoakan satu dengan yang lainnya.

Pertemuan kita yang paling rutin adalah ketika kamu terbaring sakit di rumah sakit Bethesda. Setiap pagi aku menjengukmu. Sekedar bertanya kabar untuk kemudian aku dukung kamu dalam doa supaya kamu segera pulih.

Sebenarnya saat itu mulai tumbuh perhatian yang lebih dalam kepadamu. Tapi aku tidak berani mengatakannya. Aku takut, akan terluka.

Terlalu banyak rintangan yang akan menghadangku jika aku nekat untuk mencintaimu. Keluarga besarku pasti tidak akan mendukungku. Bapakku tidak pernah merelakan anak perempuannya mendapatkan pasangan dari suku yang berbeda. Keluarga besarkupun berbeda keyakinan dengan keluarga besarmu.

Aku tahu, kamupun menyimpan perasaan yang sama. 

Tapi tidak pernah ada pernyataan darimu. Kamu menyayangiku, itu yang aku tahu. Kamu peduli padaku sepeduli aku padamu.

Hebat ya kita, bisa menyikapi perasaan kita dengan kedewasaan yang nyaris sempurna. Kita tahu, bahwa kita akan saling terluka seandainya tembok yang kokoh dan tinggi itu kita terjang. Kita tahu bahwa menikah tidak cukup hanya dengan cinta.

Dan kita sanggup melewati itu semua. Kamu memang bukan lelaki terhebat, tapi kamu lelaki terbaik yang aku punya setelah Bapakku dan anakku.

Kamu bisa menghormatiku. Tidak pernah sehelai rambutpun kamu sentuh aku dengan kekurangajaran khas laki-laki. 

Tapi sayang, aku tidak sanggup bertahan sendiri. Seperti kamu tetap sendiri sampai saat ini.

Ada luka yang terlihat jelas di matamu ketika aku memperkenalkan laki-laki yang sekarang menjadi suamiku kepadamu. Kamu cuma berkata : ” Yuli… hati-hati…..”

Seandainya aku masih diberi kesempatan untuk bertemu denganmu… ingin rasanya aku kembali membagi semua ceritaku kepadamu.

Setiap tahun bertambah aku selalu ketakutan menghitung sisa hidupmu. Maaf, tapi ini kenyataan yang selalu menghantuiku mengingat penyakitmu belum ada obatnya hingga saat ini.

Aku juga tidak bisa mendampingimu dan secerewet dulu lagi dalam mengingatkanmu untuk meminum obat.

Sahabat…. aku rindu kamu.

malam, ketika hujan membasahi kota Jogja…. 3 Februari 2008 

 

 

Oleh-oleh dari Bapak 1 Februari 2008

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — yuli @ 5:17 am

Bapak saya seorang pensiunan guru sekolah dasar. Sekolah terakhir tempat beliau mengajar berada di kompleks perumahan militer. Maklum, saya lahir dan dibesarkan di kota kecil di Jawa Tengah yang di sana terdapat beberapa sekolah militer.

Dulu, sewaktu saya kecil, saya sering protes terhadap Bapak saya. “Kenapa sih, Bapak nggak pernah bawa makanan kecil kalau pulang dari bepergian? Nggak seperti Ibu….”

Bapak cuma tersenyum dan berkata, “Bapak nggak bisa jajan dan nggak pernah mampir di warung…” Uh… sebel sekali mendengar jawaban seperti itu.

Tapi meski Bapak tidak pernah membawa makanan kecil sebagai oleh-oleh, Bapak selalu membawa bacaan. Entah buku cerita ataupun koran.

Saya masih ingat, bacaan-bacaan yang Bapak bawa, ada si Kuncung, Ceria dan Bobo. Bahkan untuk Bobo, Bapak pernah berlangganan cukup lama. Saya masih ingat, saya selalu berebut dengan adik dan kakak saya untuk menjadi pembaca pertama majalah tersebut kala loper majalah tersebut datang ke rumah kami.

Setelah kami semua lulus sekolah dasar, Bapak mengganti Bobo dengan surat kabar harian. Ada Suara Merdeka, Wawasan, Cempaka Minggu Ini, tabloid dari yang klenik sampai tabloid politik. Nyaris Bapak tidak pernah berhenti berlangganan surat kabar ataupun tabloid.

Sekarang ini, Bapak berlangganan majalah berbahasa Jawa. Mungkin ini ada hubungannya dengan adik bungsu saya yang pernah ambil jurusan mata kuliah Sastra Nusantara di kampus birunya Jogja.

Saya tidak pernah mengerti, mengapa Bapak selalu berlangganan majalah, tabloid dan surat kabar. Tapi ternyata efek samping dari kebiasaan Bapak tersebut luar biasa, saya dan dua saudara perempuan saya semua memakai kacamata minus karena terlalu sering membaca… haha.

Bapak tidak pernah menyesali ini karena ketiga putrinya tumbuh menjadi perempuan yang cerdas… ehm, dan punya keberanian untuk menentukan pilihan juga mandiri dan berani hidup prihatin.

Selain efek kacamata minus tadi, efek samping buat saya juga cukup mengejutkan, saya selalu melihat buku seperti camilan yang siap makan. Bahkan suami saya kadang cemburu melihat keasyikan saya membaca.

Wah… ternyata oleh-oleh dari Bapak saya sungguh banyak manfaatnya. Dan saya menyadarinya setelah saya berumur tiga puluh tahun… keterlaluan…!!!

untuk bapak Darsono tercinta, sampai kapanpun, aku akan selalu mencintaimu.

tak peduli ruang dan waktu akan memisahkan kita,

cintaku tetap utuh untukmu….

Jogja, Rabu 29 Januari 2008

 

Ada Cerita dalam Bus Kota… 23 Januari 2008

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — yuli @ 5:00 pm

Tiga hari yang lalu saya berkunjung ke rumah seorang kawan yang sering memberikan asupan gizi untuk otak saya (terima kasih mbak Fanny untuk kesempatan yang berharga itu). Saya naik bus kota. Maklumlah, saya tidak bisa mengendarai kendaraan jenis apapun… haha.

Karena cukup lama saya tidak naik bus kota, maka pada kesempatan kali ini saya nikmati saja perjalanan yang lumayan jauh.

Di sisi kanan depan saya duduk berdua lelaki dan perempuan. Yang laki-laki berwajah serius dengan kacamata bertengger di hidungnya. Wajahnya biasa (menurut saya), karena lelaki ini bukan kriteria saya dan berkulit coklat mendekati legam. Yang perempuan berwajah cantik meski tanpa polesan. Berkulit putih, berambut ikal sebahu dan bermata mempesona.

Dari cara mereka “berdiskusi”, saya tahu bahwa mereka tuna wicara. Tapi saya juga tidak mengingkari binar-binar yang berpendaran di sekitar mereka menandakan bahwa mereka adalah sepasang kekasih. Saya melihat begitu banyak cinta bertebaran diantara mereka.

Saya kagum dengan mereka. Sepanjang perjalanan saya amati mereka. Mereka sibuk sekali dengan percakapan mereka. Tapi mereka sama sekali tidak mengganggu kenikmatan saya mengamati mereka.

Benar-benar dunia milik mereka berdua…. aha.

Tadi , saya juga kembali ke rumah kawan saya tersebut. Agak pagi.

Agak lama saya menunggu bus kota. Ketika bus kota melintas, saya segera menghentikan laju bus itu, meski saya juga ngeri melihat bagaimana bus itu menyalip dua motor sekaligus hanya untuk mengangkut saya. 

Sekali lagi saya terpana. Ternyata kernetnya seorang perempuan!

Bukan perempuan dengan rambut pendek dan penampilan laki-laki, tapi perempuan mungil, berambut panjang yang dijalin. Berkulit sawo matang.

Jujur, sepanjang perjalanan itu saya benar-benar menikmati. Tidak ada kata-kata kasar yang berhamburan seperti yang biasanya saya dengar ketika kernetnya adalah laki-laki. Cara ibu itu mengembalikan uang kembalianpun begitu santun.

Ibu ini memang perkasa di balik tubuh mungilnya.

Ketika saya sampai tujuan dan kemudian turun, saya ucapkan terima kasih sambil saya lemparkan senyum terbaik yang saya miliki untuk beliau.

Ah, cerita yang indah untuk saya bagi.

Terima kasih mas dan mbak juga ibu kernet yang entah bernama siapa.

Untuk inspirasi juga semangat yang kalian berikan untuk saya.

#mama_akarangin#   dini hari, sambil menunggu suami menggambar animasi.

 

 

Mas PRIE.. 16 Januari 2008

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — yuli @ 3:21 pm

Akhirnya, malam ini saya punya kesempatan untuk berbagi cerita lagi di dunia maya lewat blog ini.

Saya ingin bercerita tentang seseorang yang mampu membuat saya jatuh cinta dengan dunia tulis-menulis. Kebetulan, beberapa hari yang lalu, saya bertemu lagi dengan tulisan beliau lewat bloggernya.

Ternyata tulisan beliau tidak banyak berubah. Tetap seperti dulu. Sederhana, mudah dicerna karena tidak banyak menggunakan kata-kata rumit tapi maknanya tetap dalam.

Namanya PRIE GS. Seorang penulis, wartawan dan kartunis. Yang berasal dari ibukota Jawa Tengah. Pertemuan saya berawal tahun 1995, ketika itu saya menemukan tulisan beliau di kolom serambi budaya di salah satu surat kabar harian terbitan Jawa Tengah yang kebetulan ayah saya berlangganan surat kabar tersebut.

Waktu itu setiap saya baca kolom tersebut, ada yang berbeda yang saya rasakan. Karena tidak tahan, akhirnya saya mengkliping tulisan-tulisan tersebut. Ada energi luar biasa yang saya rasakan setiap saya baca kembali tulisan-tulisan mas Prie.

Lewat tulisan saya ini, saya cuma ingin mengucapkan terima kasih untuk mas Prie, yang telah begitu berjasa menggugah semangat saya untuk jatuh cinta dalam dunia kepenulisan, meski saya sangat sadar bahwa tulisan saya masih sangat jauh dari sempurna.

Terima kasih sekali lagi untuk mas Prie. Dan bagi teman-teman yang ingin tahu seorang Prie GS lebih banyak, bisa membaca blog beliau di priegs.blogspot.com. 

  

 

 

TIGA PEREMPUAN TANGGUH DAN PERKASA DALAM HIDUPKU 21 November 2007

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — yuli @ 10:32 am

Sore yang panas ketika kubuka kembali tempat berbagiku yang agak berdebu ini.

Setelah selesai kumandikan anakku, meski masih ada beberapa pekerjaan yang belum kuselesaikan, aku tunda dulu, untuk sejenak berbagi denganmu…

 

Sore ini, aku teringat akan perempuan-perempuan perkasa yang pernah dan selalu ada dalam hidupku.

Mereka yang menjadikan aku seperti sekarang ini.

Dari nyala api yang mereka punya, aku tetap bersemangat menjalani hari demi hari yang kupunya yang kadang begitu membosankan.

 

Perempuan pertama bernama Ibu Hartiyah. Meninggal enam tahun yang lalu, tepatnya tanggal 15 Desember 2001 di usia 62 tahun. Berperawakan sedang dengan kulit kuning langsat dan selalu berdandan meski sederhana.

Satu hal dari caranya berpakaian yang selalu kukagumi, selalu mengenakan busana jawa, berkain dan berkebaya lengkap dengan kondenya. Kondenya bukan sanggul tempel yang selalu dikenakan ibu-ibu pejabat kala menghadiri acara resmi, tapi konde yang berasal dari rambut ibu yang panjang dan hitam. Meski setelah sepuh, kadang ibu menyambungnya dengan  rambut asli tapi palsu. Mungkin karena terlalu banyak rambut Ibu yang rontok dimakan usia.

Pesonanya luar biasa di mataku. Tidak pernah mengeluh dalam membesarkan keenam putra-putrinya (seharusnya kami sepuluh bersaudara, tapi karena banyak hal tinggal enam yang masih hidup sampai sekarang).

Aku masih ingat, setiap pagi, beliau pasti bangun paling awal untuk menyiapkan sarapan bagi putra-putrinya. Setelah kami semua pergi ke sekolah, masih segunung pekerjaan domestik yang menghadang beliau.

Maklum, gaji Bapak yang guru esde tidak cukup untuk membayar seorang pembantu.

Dulu, masih aku ingat, aku sering diajak Ibu ke suatu tempat. Biasanya Ibu membawa beberapa helai kain batiknya. Aku tidak paham waktu itu. Yang aku tahu, biasanya Ibu langsung berbelanja setelah menukar kain batiknya dengan beberapa helai uang. Ibu hanya berkata, itu tempat “pakdhe”.

Sekarang, setelah aku beranjak dewasa, aku baru tahu, bahwa itu tempat pegadaian. Hem… Ibu memang luar biasa, pandai mengatur keuangan dan pandai melihat kesempatan untuk menutupi  kekurangan keuangan keluarga.

Selain itu, Ibuku juga cerdas dan mempunyai kemauan yang keras. Pokoknya, Ibu adalah perempuan yang mampu menjadi inspirasi dan semangat dalam hidupku.

 

Ibuku yang kedua bernama Ibu Woro. Beliau menjadi ibuku karena kedekatan suamiku dengan beliau. Akupun sudah dianggap sebagai menantu angkatnya.

Seorang pendidik. Guru agama di sebuah sekolah dasar. Ibuku yang satu ini juga luar biasa. Berusia  kurang lebih 54 tahun.

Dari ketujuh putra-putrinya, semua bersekolah di perguruan tinggi negeri ternama di kota pelajar Jogja. Beliau mempunyai hati seluas samudera. Anakku adalah cucu angkat kesayangannya. Maklum, dari ketujuh anaknya, hanya satu yang laki-laki. Itupun jarang pulang ke rumah karena sibuk dengan dunia teaternya.

Keempat cucunya juga perempuan. Jadilah Gading jagoan yang didambakannya. Ada kesamaan antara aku dengan beliau, kami sama-sama tidak bisa mengendarai sepeda. Baik sepeda kayuh ataupun sepeda motor. Haha… seisi rumah kadang mengolok kami karena kami gagap tekhnologi….

 

Ibuku yang ketiga bernama Sri Suyani. Nama kerennya Syan kata putrinya. Tanggal lahir beliau persis sama denganku yaitu 6 Juli. Cuma saat ini beliau berusia 60 tahun dan aku berumur 30 tahun.

Aku memanggilnya dengan sebutan Mami. Ada darah Belanda dan Ambon yang mengalir dalam tubuhnya. Beliau merupakan ibu dari sahabat adikku.

Aku mempunyai hubungan yang sangat dekat dengan Mami. Ada banyak kemirirpan diantara kami. Sama-sama bersuamikan seorang art worker. Sama-sama suka membaca. 

Mami menderita kaki gajah sejak berusia 17 tahun. Juga tulang punggungnya agak bungkuk karena pernah terjatuh waktu Mami masih sangat kecil.

Semangatnya dalam menjalani hidup luarrr biasa.

Pernah kuliah di jurusan sastra Inggris di kampus birunya Jogja sampai tingkat sarjana muda.

Sebagai kesibukan untuk mengisi hari-harinya, Beliau selalu membuat kliping dari koran. Ada yang di-kliping dari tahun 1945! 

Berhadapan dan berdiskusi dengan Mami, rasanya bukan berhadapan dengan perempuan berusia 60 tahun. Tapi seperti berdiskusi dengan mahasiswi baru yang sedang berkobar semangatnya.

Mami bisa diajak berdiskusi tentang apa saja. Dari mulai soal budaya, agama, politik dan persoalan rumah tangga.

Penampilan Mami juga nyentrik, tapi asyik dan enak dilihat.

 

Begitulah ketiga perempuan dalam hidupku yang begitu aku banggakan dan aku idolakan.

Semangat juang mereka dalam menjalani kehidupan sudah terbukti kebenarannya.

Di balik sikap mereka yang lembut dan juga raga yang ringkih dimakan usia, ada bara api yang selalu menyala dalam hati mereka.

Ada cinta yang tidak pernah habis yang mereka berikan kepada kami putra-putrinya.

 

Terima-kasih Ibu…

Untuk semangat,

untuk cinta,

untuk pengorbanan,

untuk hati…

buat kami, sehingga kami ada

sampai detik ini.

Jogjakarta, kala senja hampir turun tapi belum juga berwarna jingga….. 

 

 

MENDADAK SELEB….. 10 Oktober 2007

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — yuli @ 6:00 am

Beberapa hari belakangan ini, telephone genggam saya sering kemasukan nomor asing. Begitu saya angkat, selalu saja nama Wulan, Kristy, Kristy Wulandari ataupun Tya yang disebut. Kadang juga pesan-pesan pendek yang isinya ingin berkenalan.

Jujur saya bingung, karena ada beberapa pesan yang isinya tidak beretika sama sekali. Dan iseng saya catat setiap nomor yang masuk tersebut. Begitu saya amati, ternyata banyak nomor yang masuk adalah nomor-nomor lama dan beberapa diantaranya adalah nomor pasca bayar.

Dari hasil pengamatan saya, kemungkinan besar para pemilik nomor tersebut secara finansial sudah mapan. Karena kita tahu, harga nomor lama di pasaran tinggi dan kalaupun si pemilik nomor memang sudah memiliki nomor itu dari dulu berarti dia sudah mapan secara ekonomi.

Banyak diantara mereka yang sangat bersemangat mengejar saya. Ya ampyun…. kan saya jadi ge-er… whakakkakkakakkkkkkk.

Setelah saya ada waktu luang dan punya sedikit pulsa untuk miss-call, saya coba hubungi mereka satu persatu. Ada beberapa nomor yang memang bisa dihubungi, tetapi ada juga yang tidak. Pelacakan ini saya lakukan untuk mengetahui, bahwa nomor-nomor itu memang ada yang punya, dan bukan satu orang yang mengacau ketentraman saya dengan berganti-ganti nomor.

Setelah pelacakan tersebut ada beberapa yang merespons. Karena sampai saya menulis sekarang ini, sudah ada kurang lebih tiga puluhan nomor asing yang masuk. Gila nggak tuh…..????

Yang saya heran, nomor-nomor asing tersebut mengaku dari Jakarta ataupun Bandung. Karena ada juga beberapa yang menghubungi saya dengan nomor kode kedua kota tersebut. Ah… saya nggak habis pikir.

Sampai satu hari ada yang dengan santun bertanya kepada saya dan mengklarifikasi profile saya seperti profile yang tercantum di salah satu website pencarian pasangan.

Tentu saya terkejut, karena saya sama sekali tidak pernah membuka web tersebut dan tidak pernah meng_up load profile saya ke web tersebut.

Dan satu “penggemar” yang santun tadi menyampaikan bahwa di website tersebut, deskripsi tentang diri saya benar-benar mengundang hasrat laki-laki untuk penasaran dan berkenalan dengan saya. Gile benerrrrr…..

Saya coba melacak website tersebut, tapi akhirnya saya putus asa karena membernya begitu buanyak. Dan saya lelah… capek… dongkol… dan marah.

Saya cuma sedih… kenapa ada yang mendzalimi saya sedemikian rupa adanya di bulan puasa pula. Apa sih salah saya….???? Atau mungkin saya berbuat satu kesalahan yang saya tidak sengaja, dan membuat orang tersebut benar-benar menaruh dendam kepada saya….

Tapi kan bukan dengan cara meng_up load nomor telephone dan mendiskreditkan saya ( meskipun tidak pakai nama asli saya ),  seperti itu? Kan semua masalah bisa dibicarakan, bukan main tusuk dari belakang seperti ini.

Dengan pengalaman saya seperti ini, saya cuma menyarankan untuk berhati-hati memberikan nomor telephone anda. Mungkin dengan berganti nomor masalah akan selesai. Tapi berganti nomor kan tidak semudah itu, apalagi kalu nomor yang kita punya sudah menyebar. Masa sih kita harus menghubungi satu persatu sodara, sahabat dan relasi kita yang begitu banyak? Aduh berapa waktu yang kita butuhkan hanya karena hal-hal konyol seperti ini…?

Meskipun masih ada amarah di dada, tapi sudah berkurang begitu saya lampiaskan uneg-uneg saya di blog ini.

Sekian dan salam. Yogyakarta, 10 Oktober 2007. Rabu…. 12.55

 

Pedoman Hidup Suku Indian 12 Agustus 2007

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — yuli @ 2:32 am

Bangun pagi bersama terbitnya mentari. Doa dalam hening. Doa sering-sering. Yang Maha Kuasa mendengarkan, jika kita bicara.

Sabar dan toleran terhadap orang-orang yang tersesat. Kebodohan, keangkuhan, kemarahan, kecemburuan, dan keserakahan berasal dari jiwa yang tersesat. Doakan agar mereka mendapat bimbingan.

Temukan jati diri dengan mencari sendiri. Jangan membiarkan orang lain yang mencarikan jalan untuk Anda. Jalan itu adalah jalan Anda sendiri. Orang lain mungkin bisa berjalan bersama Anda, tapi tak ada orang yang bisa menjalaninya untuk Anda.

Perlakukan tamu di rumah secara baik. Sajikan makanan terbaik, siapkan tempat tidur terbaik. Perlakukan mereka secara sopan dan hormat.

Hormati segala sesuatu yang ditempatkan di bumi ini, manusia ataupun tumbuhan.

Hargai pemikiran, harapan, dan kata-kata orang lain.

Jangan ambil sesuatu yang bukan milik Anda, apakah itu dari komunitas, dari alam atau dari budaya. Itu bukan hasil Anda dan tidak diberikan kepada Anda. Jadi itu bukan milik anda.

Jangan memotong, mengolok-olok, atau meniru secara kasar saat seseorang sedang bicara. Hargai hak setiap orang untuk menyatakan pendapat.

Jangan pernah mengatakan atau menceritakan keburukan atau kejelekan orang lain. Energi negatif yang Anda keluarkan ke alam semesta akan menggandakan diri ketika kembali kepada Anda.

Semua orang melakukan kesalahan dan semua kesalahan dapat dimaafkan.

Alam tidak diperuntukkan kepada kita, tapi bagian dari kita. Alam adalah bagian dari semua bangsa di dunia.

Jangan menyakiti hati orang lain. Racun dari rasa sakit yang Anda timbulkan akan kembali kepada Anda.

Jaga keseimbangan diri. Mental, spiritual, emosional, fisik, semuanya harus kuat, murni dan sehat. Olah tubuh untuk menguatkan pikiran. Tumbuh kaya dalam spiritual untuk menyembuhkan penyakit-penyakit emosional.

Hargai privasi dan ruang personal orang lain. Jangan menyentuh properti orang lain, terutama benda-benda keramat dan suci. Ini adalah larangan.

Pemikiran buruk menyebabkan penyakit mental, tubuh, dan roh. Coba latihan optimistik.

Anak-anak adalah benih dari masa depan. Tanamkan cinta di dalam hati mereka, sirami dengan kebijakan dan pelajaran kehidupan. Ketika mereka tumbuh, beri mereka ruang untuk berkembang.

Selalu jujur setiap saat. Kejujuran adalah tes dari itikad kita dalam hidup di dunia.

Buat keputusan-keputusan secara sadar dan tetapkan bagaimana Anda bereaksi. Bertanggungjawab atas tindakan dan perbuatan sendiri.

Rawat dan bantu diri sendiri dulu. Anda tak bisa merawat dan membantu orang lain jika Anda tidak terlebih dulu merawat dan membantu diri sendiri.

Hormati agama dan kepercayaan orang lain. Jangan memaksakan kepercayaan kepada siapapun.

Berbagi keuntungan. Ikut beramal.

Sumber : AURA Edisi 24 / XI / Minggu ke-4 / 27 Juni – 3 Juli 2007

 

Suatu sore di Gampingan 11 Agustus 2007

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — yuli @ 2:34 pm

Sore tadi saya diajak oleh sahabat saya berboncengan sepeda motor untuk menikmati suasana sore di Jogja. Kami berangkat bertiga. Saya, Gading anak saya dan sahabat saya.

Sebenarnya, kami ingin mengunjungi beberapa teman. Tapi karena kami tidak memberitahukan dulu tentang kedatangan kami, maka kami harus menelan kekecewaan kami, karena mereka tidak ada di rumah.

Untuk mengobati kekecewaan kami, akhirnya kami putuskan untuk sekedar minum teh di angkringan tugu. Tapi mengingat jarak yang jauh, karena rumah teman kami di daerah Nitiprayan, maka kami merubah rencana.

Kami berbelok ke kampus ISI lama di daerah Gampingan.

Ah… saya sempat terkejut melihat keadaan sekitar. Begitu bersih dan terawat. Tidak seperti lima tahun yang lalu ketika saya masih sering bermalam di sana bersama beberapa teman yang sedang merajut mimpi dan berproses.

Saya amati beberapa bangunan yang ada sambil bercerita kepada Gading bahwa ayah dan ibunya pernah mempunyai banyak kenangan yang sangat indah di kampus ini.

Setelah kami berputar sejenak, sahabat saya bertemu dengan beberapa temannya. Setelah ritual jabat tangan, kami diajak minum kopi oleh Pak Nico yang mengelola Museum Nasional tersebut. Dan di sana kami dikenalkan dengan seorang teman lagi.

Kami berdiskusi tentang banyak hal. Banyak sekali.

Setelah  senja menghilang dari cakrawala dan malam mulai turun, kami putuskan untuk mengakhiri diskusi kami. Karena anak saya sudah mulai rewel dan ingin segera pulang.

Sore yang indah dan sore yang memberi berkah karena saya mendapatkan satu teman diskusi lagi yang saya yakin akan menambah wawasan saya.

Terima kasih Paniyati manis untuk hang out yang mengesankan ini.

 

merdeka… dimanakah kamu berada…? 26 Juli 2007

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — yuli @ 4:46 am

sebenarnya saya mau menulis ini sejak semalam. tapi lha wong bloggernya aja baru aja dibuat. maklum, masih amat sangat gagap tekhnologi. yang saya tahu cuma masalah harga-harga kebutuhan pokok yang semakin melambung.

ada satu pertanyaan yang menggelitik benak saya. setelah saya sering mendengar cerita dari beberapa teman juga melihat dan merasakan sendiri bagaimana peranan seorang istri di dalam rumah tangga.

pekerjaan domestik yang tidak pernah selesai, mengatur keuangan agar cukup sampai setoran bulan depan datang lagi, mendidik dan mengajari anak agar tumbuh dan berkembang dengan baik plus menjaga hubungan dengan suami agar tetap harmonis.

kadang waktu dua puluh empat jam terasa masih kurang. hanya untuk sekedar membaca, harus mencuri waktu dari anak dan suami supaya tidak terjadi perang urat syaraf.

kemanakah waktu untuk diri sendiri itu pergi…. ?

surga nunut neraka katut. apakah kalimat itu sesuatu yang absolut bagi perempuan…? kalau memang demikian, untuk apakah sebenarnya perempuan itu diciptakan? apakah hanya sebagai pelengkap? apakah dengan selembar surat nikah yang sudah dilegalkan oleh negara dan agama, perempuan harus kehilangan kemerdekaannya, hanya karena memang dikondisikan seperti itu?

ini hanya sekedar sesuatu yang menggumpal di dada dan harus segera saya keluarkan agar tidak menjadi barang busuk yang akan mengundang berbagai penyakit berdatangan menghampiri saya.

mungkin anda bisa meluangkan waktu untuk sekedar membaca dan kemudian merenungkannya. atau malah anda tidak peduli dengan tulisan saya.

semua keputusan di tangan anda.