akarangin

Berbagi rasa dengan kata-kata…

TIGA PEREMPUAN TANGGUH DAN PERKASA DALAM HIDUPKU 21 November 2007

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — yuli @ 10:32 am

Sore yang panas ketika kubuka kembali tempat berbagiku yang agak berdebu ini.

Setelah selesai kumandikan anakku, meski masih ada beberapa pekerjaan yang belum kuselesaikan, aku tunda dulu, untuk sejenak berbagi denganmu…

 

Sore ini, aku teringat akan perempuan-perempuan perkasa yang pernah dan selalu ada dalam hidupku.

Mereka yang menjadikan aku seperti sekarang ini.

Dari nyala api yang mereka punya, aku tetap bersemangat menjalani hari demi hari yang kupunya yang kadang begitu membosankan.

 

Perempuan pertama bernama Ibu Hartiyah. Meninggal enam tahun yang lalu, tepatnya tanggal 15 Desember 2001 di usia 62 tahun. Berperawakan sedang dengan kulit kuning langsat dan selalu berdandan meski sederhana.

Satu hal dari caranya berpakaian yang selalu kukagumi, selalu mengenakan busana jawa, berkain dan berkebaya lengkap dengan kondenya. Kondenya bukan sanggul tempel yang selalu dikenakan ibu-ibu pejabat kala menghadiri acara resmi, tapi konde yang berasal dari rambut ibu yang panjang dan hitam. Meski setelah sepuh, kadang ibu menyambungnya dengan  rambut asli tapi palsu. Mungkin karena terlalu banyak rambut Ibu yang rontok dimakan usia.

Pesonanya luar biasa di mataku. Tidak pernah mengeluh dalam membesarkan keenam putra-putrinya (seharusnya kami sepuluh bersaudara, tapi karena banyak hal tinggal enam yang masih hidup sampai sekarang).

Aku masih ingat, setiap pagi, beliau pasti bangun paling awal untuk menyiapkan sarapan bagi putra-putrinya. Setelah kami semua pergi ke sekolah, masih segunung pekerjaan domestik yang menghadang beliau.

Maklum, gaji Bapak yang guru esde tidak cukup untuk membayar seorang pembantu.

Dulu, masih aku ingat, aku sering diajak Ibu ke suatu tempat. Biasanya Ibu membawa beberapa helai kain batiknya. Aku tidak paham waktu itu. Yang aku tahu, biasanya Ibu langsung berbelanja setelah menukar kain batiknya dengan beberapa helai uang. Ibu hanya berkata, itu tempat “pakdhe”.

Sekarang, setelah aku beranjak dewasa, aku baru tahu, bahwa itu tempat pegadaian. Hem… Ibu memang luar biasa, pandai mengatur keuangan dan pandai melihat kesempatan untuk menutupi  kekurangan keuangan keluarga.

Selain itu, Ibuku juga cerdas dan mempunyai kemauan yang keras. Pokoknya, Ibu adalah perempuan yang mampu menjadi inspirasi dan semangat dalam hidupku.

 

Ibuku yang kedua bernama Ibu Woro. Beliau menjadi ibuku karena kedekatan suamiku dengan beliau. Akupun sudah dianggap sebagai menantu angkatnya.

Seorang pendidik. Guru agama di sebuah sekolah dasar. Ibuku yang satu ini juga luar biasa. Berusia  kurang lebih 54 tahun.

Dari ketujuh putra-putrinya, semua bersekolah di perguruan tinggi negeri ternama di kota pelajar Jogja. Beliau mempunyai hati seluas samudera. Anakku adalah cucu angkat kesayangannya. Maklum, dari ketujuh anaknya, hanya satu yang laki-laki. Itupun jarang pulang ke rumah karena sibuk dengan dunia teaternya.

Keempat cucunya juga perempuan. Jadilah Gading jagoan yang didambakannya. Ada kesamaan antara aku dengan beliau, kami sama-sama tidak bisa mengendarai sepeda. Baik sepeda kayuh ataupun sepeda motor. Haha… seisi rumah kadang mengolok kami karena kami gagap tekhnologi….

 

Ibuku yang ketiga bernama Sri Suyani. Nama kerennya Syan kata putrinya. Tanggal lahir beliau persis sama denganku yaitu 6 Juli. Cuma saat ini beliau berusia 60 tahun dan aku berumur 30 tahun.

Aku memanggilnya dengan sebutan Mami. Ada darah Belanda dan Ambon yang mengalir dalam tubuhnya. Beliau merupakan ibu dari sahabat adikku.

Aku mempunyai hubungan yang sangat dekat dengan Mami. Ada banyak kemirirpan diantara kami. Sama-sama bersuamikan seorang art worker. Sama-sama suka membaca. 

Mami menderita kaki gajah sejak berusia 17 tahun. Juga tulang punggungnya agak bungkuk karena pernah terjatuh waktu Mami masih sangat kecil.

Semangatnya dalam menjalani hidup luarrr biasa.

Pernah kuliah di jurusan sastra Inggris di kampus birunya Jogja sampai tingkat sarjana muda.

Sebagai kesibukan untuk mengisi hari-harinya, Beliau selalu membuat kliping dari koran. Ada yang di-kliping dari tahun 1945! 

Berhadapan dan berdiskusi dengan Mami, rasanya bukan berhadapan dengan perempuan berusia 60 tahun. Tapi seperti berdiskusi dengan mahasiswi baru yang sedang berkobar semangatnya.

Mami bisa diajak berdiskusi tentang apa saja. Dari mulai soal budaya, agama, politik dan persoalan rumah tangga.

Penampilan Mami juga nyentrik, tapi asyik dan enak dilihat.

 

Begitulah ketiga perempuan dalam hidupku yang begitu aku banggakan dan aku idolakan.

Semangat juang mereka dalam menjalani kehidupan sudah terbukti kebenarannya.

Di balik sikap mereka yang lembut dan juga raga yang ringkih dimakan usia, ada bara api yang selalu menyala dalam hati mereka.

Ada cinta yang tidak pernah habis yang mereka berikan kepada kami putra-putrinya.

 

Terima-kasih Ibu…

Untuk semangat,

untuk cinta,

untuk pengorbanan,

untuk hati…

buat kami, sehingga kami ada

sampai detik ini.

Jogjakarta, kala senja hampir turun tapi belum juga berwarna jingga….. 

 

 

MENDADAK SELEB….. 10 Oktober 2007

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — yuli @ 6:00 am

Beberapa hari belakangan ini, telephone genggam saya sering kemasukan nomor asing. Begitu saya angkat, selalu saja nama Wulan, Kristy, Kristy Wulandari ataupun Tya yang disebut. Kadang juga pesan-pesan pendek yang isinya ingin berkenalan.

Jujur saya bingung, karena ada beberapa pesan yang isinya tidak beretika sama sekali. Dan iseng saya catat setiap nomor yang masuk tersebut. Begitu saya amati, ternyata banyak nomor yang masuk adalah nomor-nomor lama dan beberapa diantaranya adalah nomor pasca bayar.

Dari hasil pengamatan saya, kemungkinan besar para pemilik nomor tersebut secara finansial sudah mapan. Karena kita tahu, harga nomor lama di pasaran tinggi dan kalaupun si pemilik nomor memang sudah memiliki nomor itu dari dulu berarti dia sudah mapan secara ekonomi.

Banyak diantara mereka yang sangat bersemangat mengejar saya. Ya ampyun…. kan saya jadi ge-er… whakakkakkakakkkkkkk.

Setelah saya ada waktu luang dan punya sedikit pulsa untuk miss-call, saya coba hubungi mereka satu persatu. Ada beberapa nomor yang memang bisa dihubungi, tetapi ada juga yang tidak. Pelacakan ini saya lakukan untuk mengetahui, bahwa nomor-nomor itu memang ada yang punya, dan bukan satu orang yang mengacau ketentraman saya dengan berganti-ganti nomor.

Setelah pelacakan tersebut ada beberapa yang merespons. Karena sampai saya menulis sekarang ini, sudah ada kurang lebih tiga puluhan nomor asing yang masuk. Gila nggak tuh…..????

Yang saya heran, nomor-nomor asing tersebut mengaku dari Jakarta ataupun Bandung. Karena ada juga beberapa yang menghubungi saya dengan nomor kode kedua kota tersebut. Ah… saya nggak habis pikir.

Sampai satu hari ada yang dengan santun bertanya kepada saya dan mengklarifikasi profile saya seperti profile yang tercantum di salah satu website pencarian pasangan.

Tentu saya terkejut, karena saya sama sekali tidak pernah membuka web tersebut dan tidak pernah meng_up load profile saya ke web tersebut.

Dan satu “penggemar” yang santun tadi menyampaikan bahwa di website tersebut, deskripsi tentang diri saya benar-benar mengundang hasrat laki-laki untuk penasaran dan berkenalan dengan saya. Gile benerrrrr…..

Saya coba melacak website tersebut, tapi akhirnya saya putus asa karena membernya begitu buanyak. Dan saya lelah… capek… dongkol… dan marah.

Saya cuma sedih… kenapa ada yang mendzalimi saya sedemikian rupa adanya di bulan puasa pula. Apa sih salah saya….???? Atau mungkin saya berbuat satu kesalahan yang saya tidak sengaja, dan membuat orang tersebut benar-benar menaruh dendam kepada saya….

Tapi kan bukan dengan cara meng_up load nomor telephone dan mendiskreditkan saya ( meskipun tidak pakai nama asli saya ),  seperti itu? Kan semua masalah bisa dibicarakan, bukan main tusuk dari belakang seperti ini.

Dengan pengalaman saya seperti ini, saya cuma menyarankan untuk berhati-hati memberikan nomor telephone anda. Mungkin dengan berganti nomor masalah akan selesai. Tapi berganti nomor kan tidak semudah itu, apalagi kalu nomor yang kita punya sudah menyebar. Masa sih kita harus menghubungi satu persatu sodara, sahabat dan relasi kita yang begitu banyak? Aduh berapa waktu yang kita butuhkan hanya karena hal-hal konyol seperti ini…?

Meskipun masih ada amarah di dada, tapi sudah berkurang begitu saya lampiaskan uneg-uneg saya di blog ini.

Sekian dan salam. Yogyakarta, 10 Oktober 2007. Rabu…. 12.55

 

Pedoman Hidup Suku Indian 12 Agustus 2007

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — yuli @ 2:32 am

Bangun pagi bersama terbitnya mentari. Doa dalam hening. Doa sering-sering. Yang Maha Kuasa mendengarkan, jika kita bicara.

Sabar dan toleran terhadap orang-orang yang tersesat. Kebodohan, keangkuhan, kemarahan, kecemburuan, dan keserakahan berasal dari jiwa yang tersesat. Doakan agar mereka mendapat bimbingan.

Temukan jati diri dengan mencari sendiri. Jangan membiarkan orang lain yang mencarikan jalan untuk Anda. Jalan itu adalah jalan Anda sendiri. Orang lain mungkin bisa berjalan bersama Anda, tapi tak ada orang yang bisa menjalaninya untuk Anda.

Perlakukan tamu di rumah secara baik. Sajikan makanan terbaik, siapkan tempat tidur terbaik. Perlakukan mereka secara sopan dan hormat.

Hormati segala sesuatu yang ditempatkan di bumi ini, manusia ataupun tumbuhan.

Hargai pemikiran, harapan, dan kata-kata orang lain.

Jangan ambil sesuatu yang bukan milik Anda, apakah itu dari komunitas, dari alam atau dari budaya. Itu bukan hasil Anda dan tidak diberikan kepada Anda. Jadi itu bukan milik anda.

Jangan memotong, mengolok-olok, atau meniru secara kasar saat seseorang sedang bicara. Hargai hak setiap orang untuk menyatakan pendapat.

Jangan pernah mengatakan atau menceritakan keburukan atau kejelekan orang lain. Energi negatif yang Anda keluarkan ke alam semesta akan menggandakan diri ketika kembali kepada Anda.

Semua orang melakukan kesalahan dan semua kesalahan dapat dimaafkan.

Alam tidak diperuntukkan kepada kita, tapi bagian dari kita. Alam adalah bagian dari semua bangsa di dunia.

Jangan menyakiti hati orang lain. Racun dari rasa sakit yang Anda timbulkan akan kembali kepada Anda.

Jaga keseimbangan diri. Mental, spiritual, emosional, fisik, semuanya harus kuat, murni dan sehat. Olah tubuh untuk menguatkan pikiran. Tumbuh kaya dalam spiritual untuk menyembuhkan penyakit-penyakit emosional.

Hargai privasi dan ruang personal orang lain. Jangan menyentuh properti orang lain, terutama benda-benda keramat dan suci. Ini adalah larangan.

Pemikiran buruk menyebabkan penyakit mental, tubuh, dan roh. Coba latihan optimistik.

Anak-anak adalah benih dari masa depan. Tanamkan cinta di dalam hati mereka, sirami dengan kebijakan dan pelajaran kehidupan. Ketika mereka tumbuh, beri mereka ruang untuk berkembang.

Selalu jujur setiap saat. Kejujuran adalah tes dari itikad kita dalam hidup di dunia.

Buat keputusan-keputusan secara sadar dan tetapkan bagaimana Anda bereaksi. Bertanggungjawab atas tindakan dan perbuatan sendiri.

Rawat dan bantu diri sendiri dulu. Anda tak bisa merawat dan membantu orang lain jika Anda tidak terlebih dulu merawat dan membantu diri sendiri.

Hormati agama dan kepercayaan orang lain. Jangan memaksakan kepercayaan kepada siapapun.

Berbagi keuntungan. Ikut beramal.

Sumber : AURA Edisi 24 / XI / Minggu ke-4 / 27 Juni – 3 Juli 2007

 

Suatu sore di Gampingan 11 Agustus 2007

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — yuli @ 2:34 pm

Sore tadi saya diajak oleh sahabat saya berboncengan sepeda motor untuk menikmati suasana sore di Jogja. Kami berangkat bertiga. Saya, Gading anak saya dan sahabat saya.

Sebenarnya, kami ingin mengunjungi beberapa teman. Tapi karena kami tidak memberitahukan dulu tentang kedatangan kami, maka kami harus menelan kekecewaan kami, karena mereka tidak ada di rumah.

Untuk mengobati kekecewaan kami, akhirnya kami putuskan untuk sekedar minum teh di angkringan tugu. Tapi mengingat jarak yang jauh, karena rumah teman kami di daerah Nitiprayan, maka kami merubah rencana.

Kami berbelok ke kampus ISI lama di daerah Gampingan.

Ah… saya sempat terkejut melihat keadaan sekitar. Begitu bersih dan terawat. Tidak seperti lima tahun yang lalu ketika saya masih sering bermalam di sana bersama beberapa teman yang sedang merajut mimpi dan berproses.

Saya amati beberapa bangunan yang ada sambil bercerita kepada Gading bahwa ayah dan ibunya pernah mempunyai banyak kenangan yang sangat indah di kampus ini.

Setelah kami berputar sejenak, sahabat saya bertemu dengan beberapa temannya. Setelah ritual jabat tangan, kami diajak minum kopi oleh Pak Nico yang mengelola Museum Nasional tersebut. Dan di sana kami dikenalkan dengan seorang teman lagi.

Kami berdiskusi tentang banyak hal. Banyak sekali.

Setelah  senja menghilang dari cakrawala dan malam mulai turun, kami putuskan untuk mengakhiri diskusi kami. Karena anak saya sudah mulai rewel dan ingin segera pulang.

Sore yang indah dan sore yang memberi berkah karena saya mendapatkan satu teman diskusi lagi yang saya yakin akan menambah wawasan saya.

Terima kasih Paniyati manis untuk hang out yang mengesankan ini.

 

merdeka… dimanakah kamu berada…? 26 Juli 2007

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — yuli @ 4:46 am

sebenarnya saya mau menulis ini sejak semalam. tapi lha wong bloggernya aja baru aja dibuat. maklum, masih amat sangat gagap tekhnologi. yang saya tahu cuma masalah harga-harga kebutuhan pokok yang semakin melambung.

ada satu pertanyaan yang menggelitik benak saya. setelah saya sering mendengar cerita dari beberapa teman juga melihat dan merasakan sendiri bagaimana peranan seorang istri di dalam rumah tangga.

pekerjaan domestik yang tidak pernah selesai, mengatur keuangan agar cukup sampai setoran bulan depan datang lagi, mendidik dan mengajari anak agar tumbuh dan berkembang dengan baik plus menjaga hubungan dengan suami agar tetap harmonis.

kadang waktu dua puluh empat jam terasa masih kurang. hanya untuk sekedar membaca, harus mencuri waktu dari anak dan suami supaya tidak terjadi perang urat syaraf.

kemanakah waktu untuk diri sendiri itu pergi…. ?

surga nunut neraka katut. apakah kalimat itu sesuatu yang absolut bagi perempuan…? kalau memang demikian, untuk apakah sebenarnya perempuan itu diciptakan? apakah hanya sebagai pelengkap? apakah dengan selembar surat nikah yang sudah dilegalkan oleh negara dan agama, perempuan harus kehilangan kemerdekaannya, hanya karena memang dikondisikan seperti itu?

ini hanya sekedar sesuatu yang menggumpal di dada dan harus segera saya keluarkan agar tidak menjadi barang busuk yang akan mengundang berbagai penyakit berdatangan menghampiri saya.

mungkin anda bisa meluangkan waktu untuk sekedar membaca dan kemudian merenungkannya. atau malah anda tidak peduli dengan tulisan saya.

semua keputusan di tangan anda.

 

Hello world! 25 Juli 2007

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — yuli @ 3:46 pm

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!